Konjungtivitis, atau yang lebih akrab disebut masyarakat sebagai mata merah, termasuk salah satu keluhan mata paling umum yang membawa pasien berobat ke dokter, baik dokter umum maupun dokter spesialis mata. Menurut artikel dr. I Gusti Ayu Made Juliari, Sp.M(K) dari RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI, konjungtivitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi tiga jenis utama: bakteri, virus, dan alergi. Penting untuk dipahami sejak awal, konjungtivitis berbeda dari sebagian besar keluhan mata lain yang pernah kami bahas, seperti mata kering yang bersifat kronis dan tidak menular, atau katarak dan glaukoma yang merupakan gangguan struktural akibat penuaan — konjungtivitis adalah peradangan permukaan mata yang bersifat akut, dan pada jenis bakteri maupun virus, sangat menular. Memahami perbedaan tiap jenis konjungtivitis penting agar penanganan dan langkah mencegah penularannya tepat sasaran.
Apa itu Konjungtivitis?
Konjungtivitis atau mata merah adalah peradangan pada konjungtiva, yaitu lapisan bening tipis yang melapisi bagian putih mata (sklera) dan bagian dalam kelopak mata, sehingga pembuluh darah kecil di lapisan ini melebar dan membuat mata tampak merah, berair, atau mengeluarkan kotoran mata. Berdasarkan penyebabnya, konjungtivitis dibedakan menjadi tiga jenis utama: konjungtivitis bakteri (kotoran mata kental berwarna kuning-kehijauan, sangat menular), konjungtivitis virus (kotoran mata lebih encer dan berair, juga sangat menular, sering menyertai flu), dan konjungtivitis alergi (mata gatal hebat pada kedua mata, tidak menular, sering menyertai rinitis alergi). Konjungtivitis bakteri dan virus dapat menular dengan cepat lewat sentuhan tangan atau barang yang terkontaminasi, sehingga menjaga kebersihan tangan sangat penting. Berbeda dari mata kering, katarak, atau glaukoma yang bersifat kronis dan tidak menular, konjungtivitis umumnya bersifat akut dan membaik dalam satu hingga dua minggu, namun tetap perlu diperiksakan ke dokter agar jenis dan penanganannya tepat.
Nama konjungtivitis berasal dari kata "konjungtiva", nama lapisan mata yang meradang, ditambah akhiran "-itis" yang berarti peradangan dalam istilah medis. Selain berdasarkan penyebab, konjungtivitis juga bisa dibedakan berdasarkan kecepatan munculnya gejala: hiperakut (muncul sangat cepat, dalam hitungan jam), akut (muncul dalam satu hingga beberapa hari), dan kronis (berlangsung lebih dari beberapa minggu). Kecepatan munculnya gejala ini turut membantu dokter memperkirakan kemungkinan penyebabnya. Konjungtivitis alergi sendiri sering muncul berdampingan dengan keluhan hidung meler dan bersin-bersin pada rinitis alergi, karena keduanya sama-sama dipicu oleh reaksi berlebihan sistem imun terhadap alergen seperti debu, serbuk sari, atau bulu hewan peliharaan.
Apa Saja Jenis-Jenis Konjungtivitis?
Mengenali ciri khas tiap jenis konjungtivitis membantu memperkirakan penyebab sekaligus tingkat kewaspadaan yang diperlukan, terutama soal risiko penularan ke orang lain di sekitar penderita:
- Konjungtivitis bakteri — disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Staphylococcus atau Streptococcus, ditandai kotoran mata kental berwarna kuning atau kehijauan yang membuat kelopak mata lengket saat bangun tidur, mata terasa mengganjal atau perih (bukan gatal), dan sangat menular lewat sentuhan tangan maupun cairan mata
- Konjungtivitis virus — paling sering disebabkan oleh adenovirus dan kerap menyertai infeksi saluran napas atas (flu atau pilek), dengan ciri mata berair encer, kemerahan, rasa mengganjal, sering dimulai dari satu mata lalu menyebar ke mata lainnya, dan sangat menular lewat droplet maupun kontak tangan ke mata
- Konjungtivitis alergi — dipicu reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, tungau, atau bulu hewan, dengan ciri khas gatal hebat pada kedua mata sekaligus, mata berair, kelopak mata bengkak, dan tidak menular ke orang lain karena bukan disebabkan infeksi
Secara sederhana, rasa gatal yang dominan biasanya mengarah pada konjungtivitis alergi, sedangkan rasa perih atau mengganjal dengan kotoran mata yang lebih banyak lebih mengarah pada penyebab infeksi (bakteri atau virus). Namun ketiganya bisa tumpang tindih gejalanya, sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan jenis dan penyebab pastinya.
Apakah Konjungtivitis Menular?
Konjungtivitis bakteri dan virus sangat menular, terutama selama mata masih merah dan mengeluarkan kotoran atau air mata berlebih. Penularannya dapat terjadi melalui:
- Sentuhan tangan yang terkontaminasi cairan mata penderita, lalu menyentuh mata sendiri
- Penggunaan bersama handuk, sarung bantal, atau alat rias mata (maskara, eyeliner) dengan penderita
- Percikan droplet saat batuk atau bersin, khususnya pada konjungtivitis virus yang menyertai flu
- Air kolam renang yang terkontaminasi, atau lensa kontak dan cairan pembersihnya yang tidak higienis
Sebaliknya, konjungtivitis alergi tidak menular ke orang lain karena dipicu oleh reaksi alergi tubuh penderita sendiri terhadap suatu alergen, bukan oleh mikroorganisme yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Untuk mencegah penularan jenis bakteri dan virus, beberapa langkah kebersihan berikut sangat dianjurkan:
- Rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum dan sesudah menyentuh area mata atau meneteskan obat mata
- Hindari mengucek atau menyentuh mata dengan tangan yang belum dicuci
- Jangan berbagi handuk, sapu tangan, sarung bantal, atau alat rias mata dengan orang lain selama masih bergejala
- Ganti sarung bantal dan handuk secara rutin selama masa penyembuhan, serta cuci dengan air panas bila memungkinkan
- Sebaiknya tidak masuk sekolah, bekerja, atau berenang di kolam umum dahulu selagi mata masih merah dan berkotoran, untuk melindungi orang di sekitar
Apa Bedanya dengan Mata Kering dan Kondisi Mata Lainnya?
Karena sama-sama membuat mata tampak merah atau tidak nyaman, konjungtivitis kerap disamakan dengan beberapa kondisi mata lain yang justru berbeda secara mekanisme. Memahami perbedaannya penting agar penanganan yang diambil tidak keliru.
Mata kering (dry eye syndrome) adalah kondisi kronis dan tidak menular akibat kurangnya produksi atau kualitas air mata, sehingga permukaan mata tidak cukup terlumasi dan terasa perih, kering, atau seperti berpasir dalam jangka panjang. Berbeda dari konjungtivitis yang bersifat peradangan akut akibat infeksi atau alergi dan umumnya membaik dalam satu-dua minggu, mata kering berlangsung menahun dan penanganannya berfokus pada menjaga kelembapan mata, bukan mengobati infeksi.
Katarak dan glaukoma adalah dua kondisi struktural dan degeneratif yang berkembang perlahan seiring usia — katarak akibat kekeruhan lensa mata, glaukoma akibat kerusakan saraf optik akibat tekanan bola mata yang tinggi. Keduanya tidak menyebabkan mata tampak merah menyala seperti konjungtivitis, dan tidak bersifat menular maupun akut. Begitu pula dengan floaters mata (bintik-bintik yang tampak melayang di bidang penglihatan), yang berasal dari perubahan struktur cairan vitreus di dalam bola mata, bukan dari peradangan permukaan mata.
Singkatnya, konjungtivitis adalah peradangan permukaan mata yang bersifat akut, infeksius atau alergi, dan pada dua jenis pertama bersifat menular — sangat berbeda dari kondisi mata kronis dan struktural di atas yang umumnya tidak menular dan berkembang perlahan. Bila mata merah muncul mendadak disertai kotoran mata atau gatal hebat, kemungkinan besar itu konjungtivitis, bukan mata kering, katarak, glaukoma, atau floaters.
Mata merah yang muncul mendadak, disertai kotoran mata atau rasa gatal hebat, jauh lebih mungkin disebabkan konjungtivitis yang bersifat akut dan menular — bukan mata kering atau gangguan struktural mata yang bersifat kronis.
Bagaimana Cara Mengatasi Konjungtivitis Sesuai Jenisnya?
Penanganan konjungtivitis perlu disesuaikan dengan penyebabnya, sehingga pemeriksaan oleh dokter umum atau dokter spesialis mata (Sp.M) tetap menjadi langkah pertama yang dianjurkan, bukan menebak sendiri jenisnya:
- Konjungtivitis bakteri — umumnya ditangani dengan obat tetes atau salep mata antibiotik yang diresepkan dokter, digunakan sesuai jadwal dan durasi yang dianjurkan meski gejala sudah membaik lebih dulu
- Konjungtivitis virus — bersifat self-limiting atau dapat sembuh sendiri seiring waktu, penanganannya bersifat suportif seperti kompres dingin, air mata buatan, dan istirahat mata (mengurangi paparan layar) untuk mempercepat kenyamanan selama masa penyembuhan
- Konjungtivitis alergi — ditangani dengan obat tetes mata antihistamin atau anti-alergi sesuai anjuran dokter, disertai upaya menghindari alergen pemicu seperti debu atau bulu hewan
Terlepas dari jenisnya, beberapa langkah umum berikut membantu proses penyembuhan pada hampir semua kasus konjungtivitis: istirahatkan mata dengan mengurangi paparan layar gadget, komputer, dan televisi; hindari penggunaan lensa kontak sampai mata benar-benar pulih; jangan mengucek mata meski terasa gatal atau mengganjal; serta konsumsi makanan bergizi dan tidur cukup, karena kondisi tubuh yang kurang fit dapat memperlambat pemulihan. Segera periksakan diri ke dokter bila mata merah disertai nyeri hebat, penglihatan kabur, sangat sensitif terhadap cahaya, atau tidak membaik setelah beberapa hari, karena gejala tersebut bisa menandakan komplikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Bagaimana Menjaga Kesehatan Mata Sehari-hari?
Di luar masa penyembuhan konjungtivitis, menjaga kebiasaan sehat untuk mata secara umum tetap penting sebagai bagian dari kesehatan menyeluruh, mengingat mata bekerja hampir sepanjang hari untuk membaca, menatap layar, hingga beraktivitas di luar ruangan yang terpapar debu maupun sinar matahari. Membiasakan diri mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah, mengistirahatkan mata secara berkala dari layar gadget, serta menjaga asupan nutrisi harian yang mendukung fungsi antioksidan tubuh dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat sehari-hari untuk mendukung kesehatan permukaan mata secara umum.
Sebagai bagian dari upaya menjaga nutrisi harian tersebut, AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata. Kandungan antioksidan di dalamnya diposisikan sebagai bagian dari dukungan nutrisi terhadap stres oksidatif pada permukaan dan jaringan mata secara umum, sejalan dengan kebutuhan menjaga kesehatan mata menyeluruh dalam keseharian yang padat aktivitas layar.
Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan untuk mendukung kesehatan mata secara umum, bukan obat, dan tidak dapat mengobati, menyembuhkan, atau menggantikan penanganan medis untuk konjungtivitis bakteri, virus, maupun alergi. Mata merah yang disertai kotoran mata, nyeri, gatal hebat, atau penglihatan terganggu tetap membutuhkan pemeriksaan dan penanganan dari dokter agar jenis dan penyebabnya ditangani secara tepat.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.

