Glaukoma adalah kerusakan saraf optik mata yang umumnya disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata, dan merupakan salah satu penyebab utama kebutaan permanen di dunia. Berdasarkan artikel resmi Kementerian Kesehatan RI, prevalensi glaukoma di Indonesia mencapai 4,6 per 1.000 penduduk, menjadikannya penyebab kebutaan kedua terbesar di Indonesia setelah katarak. Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah jumlah penderitanya terus meningkat tanpa banyak disadari masyarakat, sebab gejalanya sering tidak terasa hingga sebagian penglihatan sudah rusak secara permanen. Berbeda dengan katarak yang membuat lensa mata keruh namun umumnya dapat ditangani dengan operasi penggantian lensa, kerusakan saraf optik akibat glaukoma bersifat ireversibel — bagian penglihatan yang sudah hilang tidak dapat dikembalikan, sehingga fokus utama penanganannya adalah mencegah kerusakan lebih lanjut, bukan memulihkan yang sudah hilang.
Apa itu Glaukoma?
Glaukoma adalah kerusakan progresif pada saraf optik mata, umumnya akibat tekanan bola mata (tekanan intraokular) yang meningkat di atas batas normal, sehingga menghambat aliran sinyal visual dari mata ke otak. Kondisi ini kerap dijuluki "si pencuri penglihatan" atau silent thief of sight karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan rasa sakit maupun gejala yang terasa, sehingga banyak penderita baru menyadarinya setelah sebagian lapang pandang hilang secara permanen.
Tekanan di dalam bola mata terbentuk dari cairan bening bernama aqueous humor yang terus diproduksi dan dialirkan keluar melalui saluran kecil di sudut bilik mata depan. Ketika saluran ini tersumbat atau tidak berfungsi optimal, cairan menumpuk dan tekanan bola mata naik, lalu menekan serabut saraf optik secara perlahan. Secara umum, glaukoma dibedakan menjadi dua jenis utama: glaukoma sudut terbuka, yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun tanpa gejala dan merupakan jenis paling umum, serta glaukoma sudut tertutup, yang dapat muncul secara mendadak (glaukoma akut) dengan gejala berat seperti nyeri hebat dan penglihatan kabur dalam hitungan jam.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sebagian besar kasus glaukoma, terutama jenis glaukoma sudut terbuka kronis, tidak menimbulkan keluhan apa pun pada tahap awal. Inilah sebabnya banyak orang di Indonesia yang menderita glaukoma belum terdeteksi dan baru terdiagnosis setelah kondisinya sudah lanjut, bahkan setelah kebutaan sebagian terjadi. Beberapa tanda yang bisa muncul seiring perkembangan penyakit antara lain:
- Sering tanpa gejala sama sekali di tahap awal, sehingga sulit disadari penderita
- Penyempitan lapang pandang tepi (penglihatan samping berkurang secara bertahap)
- Nyeri pada mata, terutama saat tekanan bola mata naik secara mendadak
- Mual dan muntah, yang bisa menyertai serangan glaukoma akut
- Munculnya lingkaran cahaya (halo) di sekitar sumber cahaya, terutama pada malam hari
Pada glaukoma sudut terbuka kronis, penyempitan lapang pandang biasanya dimulai dari sisi tepi (perifer) dan berjalan sangat lambat, sehingga otak dapat "mengompensasi" kekosongan tersebut dan penderita baru menyadarinya setelah kerusakan cukup luas. Sebaliknya, serangan glaukoma sudut tertutup akut berkembang dalam hitungan jam dan tergolong kondisi darurat mata yang memerlukan penanganan segera. Karena kerusakan saraf optik akibat glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan, mengenali gejala di atas — sekecil apa pun — dan segera memeriksakan diri ke dokter mata menjadi langkah penting untuk mencegah kebutaan lebih lanjut.
Penyebab & Faktor Risiko
Tekanan bola mata yang tinggi adalah faktor risiko utama glaukoma. Tekanan ini muncul ketika cairan aqueous humor di dalam mata tidak dapat mengalir keluar dengan lancar, sehingga menumpuk dan menekan saraf optik. Selain itu, beberapa faktor risiko lain yang perlu diwaspadai meliputi:
- Usia di atas 40 tahun, karena risiko glaukoma meningkat seiring bertambahnya usia
- Riwayat keluarga dengan glaukoma
- Menderita diabetes, yang dapat memengaruhi pembuluh darah dan saraf mata
- Rabun jauh (miopia) atau rabun dekat (hiperopia) dalam derajat berat
- Riwayat cedera mata atau penggunaan obat golongan steroid jangka panjang
Penting dipahami bahwa memiliki satu atau lebih faktor risiko di atas tidak berarti seseorang pasti akan mengalami glaukoma, namun risikonya menjadi lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sebaliknya, glaukoma juga dapat terjadi pada orang tanpa faktor risiko yang jelas, sehingga pemeriksaan mata rutin tetap dianjurkan bagi siapa saja, terutama setelah memasuki usia paruh baya.
Karena glaukoma sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan mata rutin — bukan menunggu keluhan muncul — adalah cara paling efektif untuk mendeteksi kerusakan saraf optik sebelum penglihatan hilang secara permanen.
Cara Mencegah dan Deteksi Dini
Kerusakan saraf optik akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan seperti semula, sehingga upaya yang paling realistis adalah mencegah perburukan melalui deteksi dini. Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:
- Melakukan pemeriksaan mata secara rutin, terutama bagi yang berusia 40 tahun ke atas
- Mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah agar tetap dalam batas normal
- Segera berkonsultasi ke dokter mata jika memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma
- Memeriksakan tekanan bola mata secara berkala bagi yang memiliki faktor risiko tinggi
- Tidak menunda pemeriksaan meski tidak merasakan gejala apa pun
Di klinik atau rumah sakit mata, deteksi glaukoma umumnya melibatkan beberapa pemeriksaan sederhana dan tidak menyakitkan, antara lain tonometri untuk mengukur tekanan bola mata, pemeriksaan lapang pandang (perimetri) untuk mendeteksi area penglihatan yang mulai menghilang, serta pemeriksaan saraf optik melalui funduskopi atau pencitraan optical coherence tomography (OCT) untuk melihat kondisi serabut saraf secara langsung. Karena prosesnya cepat dan tidak invasif, pemeriksaan ini sebaiknya menjadi bagian rutin dari kunjungan ke dokter mata, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.
Mendukung Gaya Hidup Sehat Sehari-hari
Selain pemeriksaan mata rutin, menjaga pola hidup sehat secara konsisten turut berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara umum, termasuk faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko glaukoma seperti tekanan darah dan gula darah. Kebiasaan sederhana seperti berolahraga secara teratur, tidak merokok, membatasi konsumsi kafein berlebihan, dan menjaga asupan nutrisi harian yang seimbang dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan mata jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya menjaga nutrisi harian, AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata.
Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti pengobatan medis untuk glaukoma. Glaukoma dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak ditangani — jika Anda memiliki gejala yang disebutkan di atas atau berisiko tinggi, segera konsultasikan dengan dokter mata untuk pemeriksaan tekanan bola mata.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.

