Mata kering (dry eye syndrome) adalah kondisi ketika mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup karena air mata yang dihasilkan terlalu sedikit atau kualitasnya kurang baik, sehingga permukaan mata mudah teriritasi. Menurut JEC Eye Hospitals & Clinics, salah satu jaringan rumah sakit mata terbesar di Indonesia, prevalensi mata kering di Indonesia diperkirakan berada pada rentang 27,5 persen hingga 30,6 persen dari populasi dewasa — dan angkanya bisa melonjak hingga 61,7% pada kelompok yang menghabiskan waktu lama di depan komputer dalam ruangan ber-AC. JEC juga mencatat lonjakan pasien mata kering sebesar 62% pada 2022 dibandingkan tahun sebelumnya.

Apa itu Mata Kering?

Mata kering adalah gangguan pada lapisan air mata (tear film) yang melapisi permukaan mata, baik karena jumlah air mata yang diproduksi terlalu sedikit maupun karena air mata menguap terlalu cepat akibat kualitasnya yang kurang baik. Berbeda dengan mata lelah karena layar digital (Computer Vision Syndrome) yang umumnya disebabkan oleh kelelahan otot fokus mata dan biasanya membaik setelah mata beristirahat, mata kering adalah gangguan pada lapisan air mata itu sendiri — sehingga gejalanya bisa tetap muncul meski mata sudah tidak menatap layar. Terlalu lama menatap layar tanpa berkedip memang menjadi salah satu faktor risiko mata kering, tetapi bukan satu-satunya penyebab, dan kondisi ini tetap perlu didiagnosis secara klinis oleh dokter mata, misalnya melalui tes Schirmer atau kuesioner OSDI (Ocular Surface Disease Index).

Secara umum, ahli mata membedakan mata kering menjadi dua kelompok besar berdasarkan mekanisme utamanya. Pertama, mata kering akibat kekurangan produksi air mata (aqueous-deficient), misalnya karena kelenjar air mata tidak bekerja optimal akibat usia atau penyakit tertentu. Kedua, mata kering akibat penguapan berlebihan (evaporative), yang paling sering dipicu oleh disfungsi kelenjar meibom — kelenjar kecil di kelopak mata yang menghasilkan lapisan minyak untuk mencegah air mata cepat menguap. Kedua jenis ini bisa terjadi bersamaan, dan keduanya berbeda dari mata lelah digital yang sifatnya lebih pada kelelahan otot akomodasi mata saat memfokuskan pandangan ke layar dalam jarak dekat dalam waktu lama.

Jika dibiarkan tanpa penanganan dalam waktu lama, mata kering yang cukup berat berpotensi menyebabkan peradangan dan kerusakan pada permukaan kornea, sehingga penting untuk tidak menganggapnya sekadar ketidaknyamanan sementara.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala mata kering bisa dirasakan berbeda-beda pada setiap orang, mulai dari ringan hingga cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala yang umum dikeluhkan antara lain:

Gejala mata kering juga cenderung berfluktuasi — bisa memburuk saat berada di ruangan ber-AC, di dalam pesawat, saat berkendara dengan angin langsung ke wajah, atau setelah membaca dan bekerja di depan layar dalam waktu lama tanpa jeda. Karena gejalanya bisa mirip dengan gangguan mata lain seperti alergi atau infeksi ringan, pemeriksaan oleh dokter mata tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis mata kering secara tepat dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain.

Botol air mata buatan (tetes mata pelumas) yang umum digunakan untuk membantu meredakan gejala mata kering
Air mata buatan atau tetes mata pelumas bebas resep menjadi salah satu langkah awal yang umum digunakan untuk membantu meredakan gejala mata kering. (Foto: TaurusEmerald, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Penyebab Mata Kering

Mata kering dapat dipicu oleh gabungan beberapa faktor, di antaranya:

Sebagian penyebab di atas bersifat sementara dan bisa membaik dengan perubahan kebiasaan, sedangkan penyebab lain — seperti disfungsi kelenjar meibom kronis atau penyakit autoimun — memerlukan penanganan medis yang lebih terarah dari dokter mata.

Mata kering bukan sekadar “mata lelah” biasa. Ini adalah gangguan pada lapisan air mata itu sendiri, sehingga gejalanya bisa terus berlanjut meski mata sudah beristirahat dari layar — dan perlu penanganan yang tepat sasaran.

Cara Mengatasi Mata Kering

Penanganan mata kering biasanya dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari sebelum mempertimbangkan langkah medis lanjutan. Beberapa langkah yang dapat membantu meredakan gejala mata kering meliputi:

Mendukung Kesehatan Mata Sehari-hari

Selain langkah-langkah di atas, menjaga pola hidup sehat juga berperan penting: cukup minum air putih, mengatur jarak dan pencahayaan saat membaca atau bekerja di depan layar, serta memastikan waktu tidur yang cukup agar mata memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memproduksi air mata secara optimal. Asupan nutrisi harian yang seimbang, termasuk dari suplemen, juga dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan mata secara umum. AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata.

Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti obat tetes mata atau pengobatan medis untuk mata kering. Jika gejala berlangsung lama atau mengganggu aktivitas, konsultasikan dengan dokter mata untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.