Presbiopia, atau yang lebih dikenal masyarakat awam sebagai mata tua, adalah kondisi penglihatan yang cepat atau lambat akan dialami hampir setiap orang seiring bertambahnya usia. Berdasarkan meta-analisis global yang dipublikasikan di jurnal Ophthalmology (Fricke dkk., 2018), diperkirakan 1,8 miliar orang di dunia mengalami presbiopia pada tahun 2015, dan sekitar 826 juta orang di antaranya belum mendapatkan koreksi penglihatan yang memadai. Studi yang sama juga mencatat bahwa sekitar 80% orang berusia 55 tahun ke atas mengalami presbiopia dalam derajat tertentu. Artinya, jika Anda mulai kesulitan membaca tulisan kecil sejak usia 40-an, Anda tidak sendirian — ini adalah bagian alami dari proses penuaan mata, bukan tanda penyakit yang mengkhawatirkan.

Apa itu Presbiopia?

Presbiopia adalah kondisi alami akibat penuaan yang membuat lensa mata kehilangan elastisitas sehingga sulit fokus pada objek dekat, biasanya mulai dirasakan sejak usia 40 tahun. Nama presbiopia berasal dari bahasa Yunani presbys (tua) dan ops (mata), yang secara harfiah berarti "mata tua". Kondisi ini bukan penyakit dan tidak dapat dicegah sepenuhnya, karena merupakan bagian dari proses biologis penuaan yang dialami hampir seluruh populasi manusia.

Pada usia muda, lensa mata bersifat lentur dan dapat berubah bentuk dengan cepat berkat kerja otot siliaris di sekitarnya, sehingga mata mampu memfokuskan bayangan benda dekat maupun jauh dengan mudah — kemampuan ini disebut akomodasi. Seiring bertambahnya usia, protein di dalam lensa mata mengalami perubahan struktur secara bertahap, membuat lensa menjadi lebih kaku dan kurang elastis. Otot siliaris pun berangsur kehilangan efisiensinya. Akibatnya, kemampuan akomodasi menurun dan mata menjadi kesulitan memfokuskan objek pada jarak dekat, meski penglihatan jarak jauh tetap normal pada orang yang sebelumnya tidak memiliki gangguan refraksi lain.

Presbiopia berbeda dari kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh), hiperopia (rabun dekat bawaan), atau astigmatisme, karena presbiopia semata-mata disebabkan oleh faktor usia, bukan oleh bentuk bola mata atau kelengkungan kornea. Bahkan orang yang seumur hidupnya memiliki penglihatan sempurna tanpa kacamata pun akan tetap mengalami presbiopia begitu memasuki usia paruh baya, karena perubahan pada lensa mata ini terjadi secara universal pada hampir seluruh populasi manusia seiring waktu.

Gejala Presbiopia

Gejala presbiopia umumnya berkembang secara bertahap dan sering kali baru disadari ketika seseorang mulai kesulitan dalam aktivitas membaca sehari-hari. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

Gejala-gejala ini biasanya mulai terasa secara perlahan pada rentang usia 40 hingga 45 tahun dan cenderung memberat hingga mencapai titik stabil sekitar usia 65 tahun, ketika lensa mata sudah kehilangan hampir seluruh elastisitasnya. Karena perkembangannya bertahap, banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah aktivitas membaca sehari-hari mulai terasa tidak nyaman tanpa bantuan kacamata.

Dokter mata memeriksa mata pasien menggunakan slit lamp di klinik untuk menilai kondisi penglihatan
Pemeriksaan mata secara rutin membantu memastikan resep kacamata baca sesuai dengan tingkat presbiopia yang dialami. (Foto: knighthood2, CC BY-SA 2.0, via Flickr/Openverse)

Penyebab Presbiopia

Penyebab presbiopia adalah mekanisme alami penuaan pada lensa mata: lensa kehilangan elastisitas dan otot siliaris yang mengatur perubahan bentuknya melemah, sehingga kemampuan akomodasi atau fokus dekat menurun secara bertahap. Proses ini murni berkaitan dengan usia dan akan dialami oleh hampir setiap orang, terlepas dari apakah mereka memiliki gangguan refraksi lain atau tidak.

Penting untuk memahami bahwa mekanisme presbiopia berbeda dari dua kondisi mata lain yang sering tertukar di masyarakat awam:

Karena mekanismenya berbeda, seseorang secara teori dapat mengalami ketiga kondisi ini secara bersamaan di usia lanjut — misalnya presbiopia disertai miopia yang sudah ada sejak muda, ditambah katarak yang mulai berkembang setelah usia 60 tahun. Inilah sebabnya pemeriksaan mata menyeluruh oleh dokter mata penting untuk memastikan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing.

Satu-satunya faktor risiko utama presbiopia adalah usia itu sendiri — semakin bertambah usia seseorang, semakin besar kemungkinan mengalaminya. Beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes yang tidak terkontrol, dilaporkan dapat mempercepat munculnya gejala presbiopia pada usia yang lebih muda, meski penelitian mengenai hal ini masih terus berkembang. Berbeda dengan katarak atau glaukoma yang memiliki sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi, presbiopia pada dasarnya tidak dapat dicegah karena murni mengikuti proses biologis penuaan lensa mata.

Presbiopia bukan tanda penyakit mata, melainkan proses alami yang pasti dialami — bukan soal "apakah" seseorang akan mengalaminya, melainkan "kapan".

Bedanya dengan Rabun Jauh (Miopia)

Presbiopia dan miopia sama-sama memengaruhi kejernihan penglihatan, namun keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda dalam hal sifat, penyebab, dan usia kemunculannya. Presbiopia adalah proses penuaan alami yang dialami hampir semua orang seiring bertambahnya usia, biasanya mulai terasa sejak 40 tahun, dan bukan tergolong penyakit atau kelainan refraksi bawaan. Sebaliknya, miopia adalah kelainan refraksi yang dapat muncul sejak usia anak-anak atau remaja, dipengaruhi oleh faktor genetik maupun kebiasaan visual seperti aktivitas jarak dekat yang berlebihan, dan tidak semua orang mengalaminya.

Perbedaan lain yang penting: penderita miopia melihat objek jauh secara buram namun objek dekat tetap jelas, sedangkan penderita presbiopia justru sebaliknya — penglihatan jauh tetap normal namun objek dekat menjadi sulit difokuskan. Yang membuat keduanya kerap membingungkan adalah kenyataan bahwa seseorang bisa mengalami presbiopia dan miopia sekaligus di usia tua, sehingga membutuhkan dua jenis koreksi berbeda dalam satu waktu — inilah salah satu alasan mengapa kacamata progresif atau bifokal banyak digunakan oleh kelompok usia lanjut yang sebelumnya sudah memakai kacamata minus.

Cara Mengatasi Presbiopia

Presbiopia tidak dapat disembuhkan karena merupakan proses penuaan alami, namun dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari dapat dikelola dengan baik melalui berbagai pilihan koreksi penglihatan, di antaranya:

Karena tingkat presbiopia cenderung terus meningkat hingga sekitar usia 65 tahun, resep kacamata baca yang digunakan mungkin perlu disesuaikan secara berkala, umumnya setiap satu hingga dua tahun. Berkonsultasi dengan dokter mata atau optometris secara berkala membantu memastikan koreksi penglihatan yang digunakan selalu sesuai dengan kondisi mata terkini, sekaligus menjadi kesempatan untuk mendeteksi dini kondisi mata lain yang juga umum muncul di usia yang sama, seperti katarak atau glaukoma.

Gaya Hidup Sehat Sehari-hari

Meski presbiopia tidak dapat dicegah, menjaga gaya hidup sehat secara umum tetap bermanfaat untuk mendukung kesehatan mata dan tubuh secara menyeluruh seiring bertambahnya usia. Istirahat mata yang cukup saat bekerja jarak dekat dalam waktu lama, pencahayaan yang memadai saat membaca, serta asupan nutrisi harian yang seimbang dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat yang mendukung kenyamanan penglihatan sehari-hari. Menerapkan aturan sederhana seperti beristirahat sejenak setiap 20 menit saat menatap layar atau bahan bacaan dari jarak dekat juga dapat membantu mengurangi kelelahan mata yang kerap menyertai presbiopia.

Sebagai bagian dari upaya menjaga nutrisi harian, AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata sebagai bagian dari gaya hidup sehat di masa penuaan.

Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan, bukan obat, dan tidak dapat mengembalikan elastisitas lensa mata yang sudah menurun akibat presbiopia. Pemeriksaan mata rutin ke dokter tetap diperlukan untuk resep kacamata yang tepat.

Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.