Jantung berdebar, atau dalam istilah medis disebut palpitasi, adalah salah satu keluhan yang paling sering dibawa pasien ke dokter. Menurut Cleveland Clinic, sebuah studi menemukan bahwa sekitar 16% orang datang ke dokter layanan primer karena keluhan jantung berdebar — menjadikannya salah satu alasan kunjungan tersering di luar keluhan umum lain, sekaligus salah satu penyebab rujukan terbanyak ke dokter spesialis jantung. Meski terasa mengkhawatirkan saat mengalaminya, kabar baiknya adalah sebagian besar kasus jantung berdebar bersifat jinak dan tidak menandakan adanya penyakit jantung serius. Namun, memahami penyebab, gejala penyerta, dan kapan gejala ini perlu diwaspadai tetap penting agar penanganan yang diberikan tepat sasaran.

Apa itu Jantung Berdebar?

Jantung berdebar (palpitasi) adalah sensasi jantung berdetak sangat cepat, kuat, atau tidak teratur yang terasa jelas oleh penderitanya, bisa dirasakan di dada, tenggorokan, atau leher. Sensasi ini merupakan gejala, bukan diagnosis tersendiri — ia dapat muncul karena banyak sebab yang berbeda, mulai dari respons tubuh yang sepenuhnya normal hingga, pada kasus yang lebih jarang, tanda adanya gangguan irama jantung.

Karena bersifat subjektif, cara setiap orang menggambarkan jantung berdebar bisa berbeda-beda. Ada yang merasakannya seperti jantung "berlari", ada yang menggambarkannya sebagai jantung yang "menghentak" di dada, dan ada pula yang merasa jantungnya seperti "melompat" atau berhenti sesaat sebelum kembali berdetak. Semua variasi sensasi ini masuk dalam payung istilah palpitasi.

Sebagai gambaran, jantung orang dewasa yang sehat pada umumnya berdetak antara 60-100 kali per menit saat tubuh sedang beristirahat, dengan irama yang teratur dan hampir tidak disadari kehadirannya. Ketika detak jantung terasa jauh melampaui rentang tersebut, berdetak sangat tidak beraturan, atau terasa begitu kuat hingga mengganggu konsentrasi, itulah yang disebut sebagai jantung berdebar. Perubahan sensasi inilah yang membuat seseorang tiba-tiba menyadari keberadaan jantungnya, padahal dalam kondisi normal detak jantung biasanya berlangsung tanpa disadari sama sekali.

Gejala Jantung Berdebar

Gejala utama palpitasi adalah sensasi pada dada yang mudah dikenali penderitanya sendiri, meskipun pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Gejala yang umum dilaporkan meliputi:

Pada kebanyakan orang, episode ini berlangsung singkat, hanya beberapa detik hingga beberapa menit, lalu mereda dengan sendirinya begitu pemicunya hilang. Namun pada sebagian orang, terutama yang sensitif terhadap kafein atau sedang mengalami tekanan emosional berat, episode ini bisa berulang beberapa kali dalam sehari meski setiap episodenya singkat. Mencatat kapan gejala muncul, berapa lama berlangsung, dan aktivitas apa yang sedang dilakukan saat itu dapat sangat membantu dokter menentukan penyebabnya, terutama karena palpitasi seringkali sudah mereda saat pasien tiba di ruang periksa sehingga sulit ditangkap langsung oleh rekam jantung standar.

Latihan pernapasan dalam sebagai teknik relaksasi untuk menenangkan detak jantung
Teknik pernapasan dalam adalah salah satu cara sederhana untuk menenangkan tubuh saat jantung berdebar akibat stres atau kecemasan. (Foto: Pinkpanther0, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Penyebab Jantung Berdebar

Kebanyakan kasus jantung berdebar bersifat jinak dan bukan tanda penyakit jantung. Pemicu paling umum berasal dari gaya hidup dan respons tubuh sehari-hari, di antaranya:

Di luar penyebab-penyebab jinak tersebut, sebagian kecil kasus jantung berdebar terkait dengan kondisi medis yang mendasarinya, seperti aritmia (gangguan irama jantung), gangguan tiroid (terutama hipertiroidisme yang mempercepat metabolisme tubuh), atau anemia (kekurangan sel darah merah yang membuat jantung bekerja lebih keras memompa oksigen ke seluruh tubuh). Kondisi-kondisi ini memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis khusus, sehingga penting untuk tidak langsung menyimpulkan sendiri penyebab jantung berdebar tanpa konsultasi ke dokter jika gejala sering berulang.

Jantung berdebar yang muncul sesekali setelah minum kopi atau saat gugup umumnya tidak berbahaya — namun jantung berdebar yang berlangsung lama, disertai nyeri dada, atau membuat hampir pingsan adalah sinyal tubuh yang tidak boleh diabaikan dan perlu dievaluasi dokter.

Bedanya dengan Penyakit Jantung Koroner

Banyak orang mengira jantung berdebar otomatis berarti mengidap penyakit jantung, padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Jantung berdebar (palpitasi) adalah gejala atau sensasi subjektif yang bisa memiliki banyak penyebab jinak seperti stres, kafein, atau kurang tidur, sebagaimana dijelaskan di atas. Sementara itu, penyakit jantung koroner adalah penyakit struktural yang terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah arteri yang memasok darah ke jantung, biasanya karena penumpukan plak (aterosklerosis) selama bertahun-tahun.

Perbedaan mendasarnya: palpitasi adalah sensasi yang bisa dirasakan siapa saja tanpa ada kelainan struktural pada jantung, sedangkan jantung koroner adalah penyakit yang membutuhkan diagnosis dan penanganan medis jangka panjang. Meski begitu, keduanya bisa saling berkaitan pada sebagian kasus — jantung berdebar memang bisa menjadi salah satu gejala yang menyertai penyakit jantung koroner, terutama bila muncul bersamaan dengan nyeri dada atau sesak napas saat beraktivitas. Karena itu, siapa pun yang mengalami jantung berdebar disertai gejala-gejala tersebut sebaiknya tidak menunda pemeriksaan ke dokter untuk memastikan kondisi jantungnya secara menyeluruh.

Kapan Harus Waspada

Meski sebagian besar kasus jantung berdebar tidak berbahaya, ada sejumlah tanda yang menunjukkan gejala ini perlu segera diperiksakan ke dokter, yaitu ketika jantung berdebar disertai dengan:

Bila salah satu tanda di atas menyertai jantung berdebar, jangan menunggu gejala membaik sendiri — segera cari pertolongan medis untuk memastikan tidak ada kondisi serius yang mendasarinya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan awal berupa rekam jantung (elektrokardiogram/EKG) untuk melihat aktivitas listrik jantung pada saat itu, dan bila diperlukan, memasang alat pemantau irama jantung portabel (Holter monitor) yang dikenakan selama 24-48 jam atau lebih untuk menangkap episode palpitasi yang muncul di luar jam praktik dokter. Pemeriksaan darah untuk memeriksa fungsi tiroid dan kadar hemoglobin juga sering dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan tiroid atau anemia sebagai penyebabnya.

Cara Mengatasi dan Mencegah

Untuk kasus jantung berdebar yang bersifat jinak dan berkaitan dengan gaya hidup, beberapa langkah berikut dapat membantu mengatasi dan mencegah gejala ini muncul kembali:

Jika langkah-langkah di atas sudah diterapkan namun jantung berdebar tetap sering muncul, atau justru semakin sering dan intens, inilah saatnya berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti rekam jantung (EKG) atau pemantauan irama jantung selama beberapa hari.

Mendukung Gaya Hidup Sehat Sehari-hari

Mengelola stres, menjaga pola tidur, dan tetap aktif bergerak adalah fondasi utama untuk mengurangi frekuensi jantung berdebar yang dipicu oleh gaya hidup. Sebagai pendukung rutinitas sehat tersebut, AFC Life Science menghadirkan SOP Subarashi, minuman serbuk harian asal Jepang yang diformulasikan dengan kolagen laut dan nutrisi pilihan untuk membantu menjaga stamina dan vitalitas tubuh, sehingga konsumen tetap dapat menjalani aktivitas harian dengan tubuh yang lebih bugar sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Penting untuk diperhatikan: SOP Subarashi adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti pengobatan medis untuk gangguan jantung atau aritmia. Jika jantung berdebar Anda sering terjadi, berlangsung lama, atau disertai gejala berat, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Mengenali perbedaan antara sensasi jantung berdebar yang jinak dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah kunci untuk menyikapi gejala ini dengan tepat, tanpa panik berlebihan namun juga tanpa mengabaikan sinyal tubuh yang sebenarnya penting.