Hipotensi, atau darah rendah, mungkin terdengar lebih "aman" dibandingkan hipertensi, namun kondisi ini juga perlu diwaspadai. Sebuah studi cross-sectional yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna (2025) pada 160 remaja di wilayah kerja Puskesmas Lumbir menemukan bahwa 56,9% (91 dari 160 remaja) mengalami hipotensi — angka yang menunjukkan bahwa darah rendah bukan kondisi langka, terutama pada kelompok usia muda yang jarang diperiksa tekanan darahnya secara rutin.
Apa itu Darah Rendah?
Darah rendah (hipotensi) adalah kondisi ketika tekanan darah berada di bawah 90/60 mmHg, yaitu ambang klinis standar yang digunakan tenaga medis untuk menentukan hipotensi pada orang dewasa. Tidak semua orang dengan tekanan darah rendah merasakan gejala — sebagian bahkan memiliki tekanan darah rendah alami tanpa keluhan apa pun — namun pada sebagian lain, penurunan tekanan darah bisa mengganggu aliran darah ke otak dan organ vital sehingga menimbulkan gejala yang perlu diperhatikan.
Sebagai perbandingan, tekanan darah normal orang dewasa umumnya berada pada rentang 90/60 hingga 120/80 mmHg. Ketika angka sistolik (angka atas) turun di bawah 90 mmHg atau angka diastolik (angka bawah) turun di bawah 60 mmHg, tenaga medis akan menyebutnya hipotensi. Perlu dicatat bahwa angka ini bersifat umum — sebagian orang, terutama yang terbiasa berolahraga rutin atau memang memiliki tekanan darah rendah alami sejak dulu, bisa saja berada di bawah ambang tersebut tanpa masalah kesehatan apa pun. Yang membedakan hipotensi "normal" dari hipotensi yang perlu penanganan adalah ada tidaknya gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Cara paling sederhana untuk mengetahui tekanan darah adalah dengan mengukurnya menggunakan tensimeter, baik di fasilitas kesehatan maupun alat digital di rumah. Pengukuran idealnya dilakukan dalam posisi duduk tenang selama beberapa menit, dengan lengan sejajar jantung, agar hasilnya akurat dan tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik sesaat sebelumnya. Bagi yang memiliki riwayat pusing saat berdiri, mengukur tekanan darah dalam dua posisi — berbaring dan setelah berdiri — dapat membantu mengonfirmasi apakah keluhan tersebut memang berkaitan dengan hipotensi ortostatik.
Secara klinis, hipotensi umumnya dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan pemicunya. Hipotensi ortostatik terjadi ketika tekanan darah turun drastis saat seseorang berpindah posisi, misalnya dari duduk atau berbaring menjadi berdiri. Hipotensi postprandial terjadi setelah makan, saat aliran darah lebih banyak dialihkan ke sistem pencernaan sehingga tekanan darah di bagian tubuh lain menurun sementara. Sementara itu, hipotensi yang dimediasi saraf (neurally mediated hypotension) muncul akibat komunikasi yang keliru antara jantung dan otak, biasanya dipicu oleh berdiri terlalu lama. Mengenali jenis hipotensi yang dialami membantu menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala hipotensi muncul akibat berkurangnya suplai darah beroksigen ke otak dan organ tubuh lainnya. Beberapa tanda yang umum dilaporkan antara lain:
- Pusing, terutama saat berdiri tiba-tiba dari posisi duduk atau berbaring (dikenal sebagai hipotensi ortostatik)
- Pandangan berkunang-kunang atau kabur sesaat
- Lemas dan mudah lelah sepanjang hari
- Mual
- Kulit tampak pucat dan terasa dingin
- Pada kasus berat, penderita bisa sampai pingsan
Karena gejala-gejala ini bisa tumpang tindih dengan kondisi lain, pemeriksaan tekanan darah tetap menjadi cara paling pasti untuk memastikan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh hipotensi. Sebagai gambaran, studi pada 160 remaja di wilayah kerja Puskesmas Lumbir yang disebutkan di awal artikel ini turut mencatat bahwa kualitas tidur yang buruk berhubungan erat dengan kejadian hipotensi — remaja dengan kualitas tidur buruk berisiko mengalami hipotensi lebih dari lima kali lipat dibandingkan yang tidur cukup dan berkualitas. Temuan ini menunjukkan bahwa gejala hipotensi tidak selalu berdiri sendiri, melainkan bisa berkaitan dengan kebiasaan hidup sehari-hari seperti pola tidur, aktivitas fisik, dan status gizi.
Gejala pusing saat berdiri tiba-tiba sering kali menjadi tanda paling mudah dikenali. Ini terjadi karena tubuh membutuhkan waktu singkat untuk menyesuaikan aliran darah ke otak ketika posisi berubah secara mendadak. Jika penyesuaian ini berjalan lambat — misalnya akibat dehidrasi, usia lanjut, atau efek samping obat tertentu — otak sempat kekurangan pasokan darah beroksigen sehingga muncul sensasi melayang, pandangan gelap sesaat, bahkan risiko jatuh. Karena itu, penderita hipotensi ortostatik dianjurkan untuk bangkit secara perlahan dan bertahap, bukan langsung berdiri tegak.
Penyebab Darah Rendah
Hipotensi dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi sementara hingga gangguan kesehatan yang mendasarinya, di antaranya:
- Dehidrasi, yang mengurangi volume darah dalam tubuh sehingga jantung kesulitan memompa cukup darah untuk mempertahankan tekanan normal
- Kehamilan, karena sistem peredaran darah berkembang dengan cepat dan pembuluh darah melebar untuk mengalirkan darah tambahan ke janin
- Masalah jantung, seperti bradikardia (detak jantung terlalu lambat) atau gangguan katup jantung yang mengurangi efisiensi pompa darah
- Gangguan endokrin, misalnya hipotiroid atau kadar gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia), yang memengaruhi cara tubuh mengatur tekanan darah
- Efek samping obat-obatan, seperti diuretik, obat hipertensi, dan antidepresan yang bekerja menurunkan tekanan darah atau melebarkan pembuluh darah
- Kehilangan darah dalam jumlah signifikan, misalnya akibat cedera, operasi, atau perdarahan internal
- Kekurangan nutrisi, termasuk anemia serta kekurangan vitamin B12 dan folat yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi sel darah merah yang cukup
- Berdiri terlalu lama, yang membuat darah cenderung terkumpul di kaki akibat gravitasi sehingga aliran balik ke jantung berkurang
Pada banyak kasus, penyebab hipotensi bersifat gabungan — misalnya seseorang yang sedang dehidrasi ringan sekaligus mengonsumsi obat hipertensi bisa mengalami penurunan tekanan darah yang lebih tajam dibandingkan jika hanya satu faktor saja yang berperan. Inilah sebabnya riwayat kesehatan dan daftar obat yang dikonsumsi menjadi informasi penting saat berkonsultasi dengan dokter mengenai keluhan darah rendah.
Darah rendah bukan berarti otomatis "lebih sehat" dibanding darah tinggi. Tekanan darah yang terlalu rendah juga bisa menjadi sinyal tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Kapan Harus Waspada
Sebagian besar kasus hipotensi ringan dan tidak berbahaya, terutama jika tidak disertai gejala atau hanya muncul sesekali saat berdiri terlalu cepat. Namun, segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami:
- Pusing berat yang disertai pingsan
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Detak jantung tidak teratur
- Demam tinggi
Kombinasi gejala di atas dengan tekanan darah rendah bisa menandakan kondisi medis yang lebih serius, seperti gangguan irama jantung, infeksi berat, atau reaksi alergi parah, sehingga penanganan tidak boleh ditunda. Pingsan berulang akibat hipotensi juga meningkatkan risiko cedera fisik, misalnya akibat terjatuh, sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut oleh tenaga medis untuk mencari penyebab dasarnya dan mencegah kejadian berulang.
Cara Mengatasi Darah Rendah
Penanganan hipotensi tergantung pada penyebabnya, namun beberapa langkah berikut umumnya membantu meringankan gejala sehari-hari:
- Cukup minum air putih dan cairan elektrolit untuk menjaga volume darah tetap optimal, terutama pada cuaca panas atau setelah beraktivitas fisik
- Tidak berdiri tiba-tiba dari posisi duduk atau berbaring — beri jeda beberapa detik sebelum bergerak lebih jauh
- Makan dalam porsi kecil tapi sering, terutama bagi yang mengalami hipotensi postprandial (penurunan tekanan darah setelah makan)
- Menggunakan stocking kompresi jika direkomendasikan oleh dokter, untuk membantu aliran balik darah dari kaki ke jantung
- Mengevaluasi obat-obatan yang sedang dikonsumsi bersama dokter, terutama jika diduga menjadi pemicu, tanpa menghentikan obat secara sepihak
Selain langkah-langkah tersebut, mengenali pola gejala pribadi juga membantu. Misalnya, jika pusing selalu muncul setelah makan siang berat, mengganti pola makan menjadi porsi lebih kecil dan lebih sering bisa membantu mengurangi frekuensi keluhan. Mencatat kapan dan dalam situasi apa gejala muncul akan sangat membantu dokter menentukan pemeriksaan lanjutan yang paling relevan.
Mendukung Gaya Hidup Sehat Sehari-hari
Selain langkah-langkah penanganan di atas, menjaga pola hidup sehat secara konsisten — termasuk cukup istirahat, aktivitas fisik yang teratur, dan asupan nutrisi harian yang seimbang — dapat menjadi bagian dari upaya mendukung stamina dan vitalitas tubuh secara umum. Ingat bahwa studi yang disebutkan sebelumnya turut menemukan kaitan antara kualitas tidur buruk dan status gizi kurang dengan kejadian hipotensi, sehingga memperbaiki kebiasaan hidup sehari-hari tetap menjadi fondasi penting, di luar penanganan medis spesifik yang mungkin diperlukan.
AFC Life Science menghadirkan SOP Subarashi, suplemen serbuk harian asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung stamina dan vitalitas tubuh sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan nutrisi harian. Produk ini diformulasikan untuk melengkapi pola makan sehari-hari, bukan untuk menggantikan makanan bergizi seimbang maupun kebiasaan hidup sehat lainnya.
Penting untuk diperhatikan: SOP Subarashi adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti pengobatan medis untuk hipotensi. Jika Anda memiliki gejala di atas, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan SOP Subarashi tersedia di halaman produk kami.

