Astigmatisme, yang di masyarakat lebih dikenal sebagai mata silinder, merupakan salah satu kelainan refraksi mata paling umum di dunia — bahkan lebih sering ditemukan dibandingkan mata minus maupun mata plus. Menurut tinjauan epidemiologi yang dirangkum Alomedika, prevalensi astigmatisme pada populasi dewasa di Sumatra dilaporkan mencapai 47,2%, dan angka ini meningkat hingga sekitar 77% pada kelompok usia di atas 50 tahun — meski belum ada data prevalensi nasional yang mencakup seluruh Indonesia. Astigmatisme juga kerap tidak berdiri sendiri: kondisi ini sangat sering ditemukan bersamaan dengan mata minus (miopia) atau mata plus (hiperopia) pada mata yang sama.
Apa itu Astigmatisme?
Astigmatisme adalah kelainan refraksi mata akibat bentuk kornea atau lensa mata yang tidak simetris — berbentuk lonjong seperti bola rugby, bukan bulat sempurna seperti bola pada mata normal — sehingga cahaya yang masuk difokuskan pada lebih dari satu titik di retina, bukan pada satu titik fokus tunggal. Akibatnya, penglihatan menjadi buram atau terdistorsi, dan ini bisa terjadi baik untuk objek yang dekat maupun jauh, berbeda dengan kelainan refraksi lain yang biasanya hanya mengganggu penglihatan pada satu jarak tertentu. Kondisi ini dapat berdiri sendiri, muncul sejak lahir, atau berkembang belakangan akibat cedera, operasi mata, maupun penyakit kornea, dan sangat sering ditemukan bersamaan dengan mata minus (miopia) atau mata plus (hiperopia) pada mata yang sama. Astigmatisme umumnya dikoreksi dengan kacamata berlensa silinder, lensa kontak toric, atau pada kasus tertentu dengan bedah refraktif seperti LASIK, dan derajatnya perlu dipantau secara berkala karena dapat berubah seiring waktu.
Mata dengan kelengkungan normal membiaskan cahaya secara merata dari segala arah, sehingga bayangan yang terbentuk di retina tajam dan jelas. Pada mata dengan astigmatisme, kelengkungan kornea atau lensa berbeda antara satu arah (meridian) dengan arah lainnya, sehingga sebagian cahaya difokuskan lebih dulu dan sebagian lagi difokuskan lebih belakang. Hasilnya, gambar yang diterima otak menjadi kabur, bergaris, atau berbayang, terutama saat melihat detail halus seperti tulisan kecil atau lampu di malam hari. Astigmatisme dapat terjadi pada segala usia, termasuk sejak bayi lahir, dan derajatnya bisa ringan hingga cukup signifikan sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk memastikan diagnosis serta mengukur derajat dan arah astigmatisme secara presisi, dokter spesialis mata biasanya menggunakan alat seperti keratometer, yang mengukur kelengkungan permukaan kornea pada berbagai meridian, atau pemeriksaan corneal topography (topografi kornea) yang memetakan seluruh permukaan kornea secara tiga dimensi untuk mendeteksi ketidaksimetrisan yang kadang tidak terlihat jelas pada pemeriksaan refraksi standar. Kombinasi hasil pemeriksaan ini, bersama uji refraksi menggunakan phoropter seperti pada gambar di atas, memungkinkan dokter menentukan kekuatan lensa silinder yang dibutuhkan serta sudut atau aksis koreksinya, sehingga resep kacamata maupun lensa kontak dapat dibuat seakurat mungkin sesuai bentuk mata masing-masing pasien.
Gejala Astigmatisme
Tanda-tanda astigmatisme yang perlu diwaspadai meliputi:
- Penglihatan buram atau terdistorsi pada jarak berapa pun, baik dekat maupun jauh
- Sakit kepala, terutama setelah membaca atau bekerja dalam jarak dekat dalam waktu lama
- Mata lelah atau tegang (eye strain)
- Kesulitan melihat dengan jelas di malam hari, misalnya saat mengemudi
- Sering menyipitkan mata untuk mencoba melihat lebih jelas
Pada anak-anak, gejala astigmatisme kadang tidak disadari karena mereka menganggap penglihatan buram sebagai hal yang normal. Karena itu, keluhan seperti sering mengucek mata, duduk terlalu dekat dengan televisi, atau kesulitan membaca papan tulis di sekolah sebaiknya diperiksakan ke dokter spesialis mata sejak dini.
Penyebab Astigmatisme
Sebagian besar kasus astigmatisme bersifat bawaan lahir, yaitu bentuk kornea yang tidak simetris ini diwariskan secara genetik dari orang tua. Selain faktor bawaan, astigmatisme juga bisa berkembang atau berubah karena beberapa hal lain, di antaranya:
- Cedera pada mata yang mengubah bentuk permukaan kornea
- Operasi mata tertentu yang memengaruhi kelengkungan kornea
- Kondisi kornea seperti keratoconus — penipisan dan penonjolan kornea secara bertahap ke arah depan sehingga bentuknya menjadi kerucut, yang dapat menyebabkan astigmatisme derajat tinggi dan terus memburuk bila tidak ditangani
Karena faktor genetik berperan besar, seseorang dengan riwayat keluarga astigmatisme atau kelainan refraksi lain sebaiknya melakukan pemeriksaan mata lebih awal dan lebih rutin.
Jenis-Jenis Astigmatisme
Astigmatisme dapat dikelompokkan berdasarkan bagian mata mana yang bentuknya tidak simetris:
- Astigmatisme kornea — terjadi karena bentuk kornea (lapisan bening terluar mata) tidak simetris; ini merupakan jenis astigmatisme yang paling umum
- Astigmatisme lentikular — terjadi karena bentuk lensa mata di bagian dalam yang tidak simetris, meski kornea normal
Astigmatisme juga dapat disertai kelainan refraksi lain pada mata yang sama, sehingga dikenal istilah:
- Astigmatisme miopik — astigmatisme yang disertai mata minus (miopia)
- Astigmatisme hiperopik — astigmatisme yang disertai mata plus (hiperopia)
Kombinasi inilah yang membuat resep kacamata pada penderita astigmatisme sering terlihat lebih rumit dibanding resep mata minus atau mata plus biasa, karena harus mengoreksi dua jenis kelainan refraksi sekaligus dalam satu lensa.
Selain berdasarkan letaknya, astigmatisme juga dapat dibedakan menurut keteraturan kelengkungannya. Pada astigmatisme reguler, dua meridian utama mata — yang paling melengkung dan yang paling datar — saling tegak lurus satu sama lain, sehingga pola distorsi penglihatannya konsisten dan relatif mudah dikoreksi dengan lensa silinder standar pada kacamata atau lensa kontak toric. Sebaliknya, pada astigmatisme ireguler, meridian-meridian tersebut tidak saling tegak lurus, atau permukaan kornea memiliki banyak titik kelengkungan yang tidak beraturan sama sekali. Kondisi ini sering ditemukan pada kasus keratoconus, jaringan parut kornea akibat cedera atau infeksi, maupun komplikasi pascaoperasi mata. Astigmatisme ireguler umumnya lebih sulit dikoreksi dengan kacamata biasa dan kerap memerlukan lensa kontak rigid gas permeable khusus atau penanganan lanjutan dari dokter spesialis mata kornea.
Astigmatisme bukan soal seberapa panjang atau pendek bola mata, melainkan soal bentuknya — dan karena itu ia bisa hadir berdampingan dengan kelainan refraksi lain pada mata yang sama.
Bedanya dengan Rabun Jauh dan Mata Tua
Meski sama-sama membuat penglihatan buram, astigmatisme, mata minus (miopia), dan presbiopia (mata tua) disebabkan oleh mekanisme yang berbeda:
- Astigmatisme adalah soal bentuk kornea atau lensa mata yang tidak simetris, sehingga bisa menyebabkan buram di segala jarak — dekat maupun jauh
- Mata minus (miopia) disebabkan oleh bola mata yang tumbuh terlalu panjang, sehingga hanya objek jauh yang terlihat buram sementara objek dekat masih jelas
- Presbiopia (mata tua) disebabkan oleh elastisitas lensa mata yang menurun akibat penuaan, sehingga mata sulit fokus pada objek dekat
Perbedaan mendasar ini penting dipahami karena seseorang bisa saja mengalami astigmatisme bersamaan dengan mata minus atau presbiopia pada waktu yang sama — misalnya seorang dewasa usia 40-an dengan astigmatisme sejak kecil yang kemudian juga mulai mengalami presbiopia. Dalam kondisi seperti ini, dokter spesialis mata akan meresepkan kacamata atau lensa kontak yang mengoreksi seluruh kelainan refraksi sekaligus, bukan hanya salah satunya.
Cara Mengatasi Astigmatisme
Astigmatisme umumnya dikoreksi (bukan disembuhkan secara permanen tanpa tindakan medis) melalui beberapa pilihan berikut:
- Kacamata dengan lensa silinder (cylindrical lens) — cara paling umum dan paling sederhana untuk mengoreksi astigmatisme. Lensa ini memiliki kekuatan refraksi yang berbeda pada dua meridian yang saling tegak lurus, sehingga cahaya yang tadinya jatuh pada dua titik fokus berbeda dapat disatukan kembali tepat di retina
- Lensa kontak toric — lensa kontak yang dirancang khusus untuk astigmatisme, mampu mengoreksi dua kelengkungan berbeda pada mata sekaligus. Berbeda dari lensa kontak biasa yang bentuknya bulat sepenuhnya simetris, permukaan lensa toric memiliki zona kelengkungan berbeda dan desain stabilisasi khusus agar orientasinya tidak mudah berputar saat mata berkedip atau bergerak, sehingga koreksi penglihatan tetap konsisten sepanjang hari
- Prosedur bedah refraktif seperti LASIK — dapat menjadi pilihan koreksi permanen untuk kasus tertentu pada usia dewasa setelah derajat astigmatisme stabil. Selama prosedur, laser excimer membentuk ulang permukaan kornea sesuai peta topografi yang telah diukur sebelumnya, meratakan area yang terlalu melengkung dan mengoreksi area yang terlalu datar sehingga cahaya dapat difokuskan pada satu titik di retina; meski begitu, tidak semua orang menjadi kandidat yang cocok untuk prosedur ini
- Pemeriksaan mata rutin — penting dilakukan secara berkala karena derajat astigmatisme dapat berubah seiring waktu, sehingga resep kacamata atau lensa kontak perlu disesuaikan agar penglihatan tetap optimal
Pemilihan metode koreksi yang paling sesuai sebaiknya didiskusikan langsung dengan dokter spesialis mata, terutama karena astigmatisme sering ditemukan bersamaan dengan kelainan refraksi lain yang juga perlu dikoreksi.
Mendukung Kesehatan Mata Sehari-hari
Di luar upaya koreksi optik dan medis di atas, menjaga kebiasaan visual yang sehat — seperti pencahayaan yang cukup saat membaca, jeda istirahat mata dari layar, dan pemeriksaan mata berkala — tetap menjadi fondasi utama dalam mengelola astigmatisme sehari-hari. Sebagai pelengkap, asupan nutrisi harian yang seimbang juga dapat mendukung kesehatan mata secara umum. AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata sebagai bagian dari rutinitas kesejahteraan harian.
Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan, bukan obat, dan tidak dapat memperbaiki bentuk kornea atau lensa mata yang menyebabkan astigmatisme. Pemeriksaan mata rutin ke dokter tetap diperlukan untuk resep kacamata atau lensa kontak yang tepat.

