Retinopati diabetik adalah salah satu komplikasi kronis diabetes yang paling ditakuti, karena menyerang organ penglihatan dan berpotensi menyebabkan kebutaan permanen jika dibiarkan tanpa penanganan. Berbeda dari diabetes tipe 2 yang membahas pengendalian kadar gula darah secara umum, artikel ini berfokus khusus pada bagaimana kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama merusak pembuluh darah kecil di retina mata. Kondisi ini juga berbeda dari mata kering, yang merupakan gangguan permukaan mata akibat kurangnya air mata dan tidak berkaitan dengan diabetes. Data yang dikutip Alodokter menunjukkan retinopati diabetik ditemukan pada sekitar 42,6% penderita diabetes di Indonesia — angka yang menegaskan betapa pentingnya setiap penderita diabetes memahami kondisi ini dan menjalani pemeriksaan mata secara rutin.

Apa itu Retinopati Diabetik?

Retinopati diabetik adalah kerusakan pembuluh darah kecil di retina, lapisan jaringan peka cahaya di bagian belakang bola mata, yang terjadi akibat kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama pada penderita diabetes. Gula darah tinggi kronis membuat dinding pembuluh darah retina menebal, bocor, atau tersumbat, sehingga aliran darah dan oksigen ke retina terganggu. Pada tahap lanjut, retina yang kekurangan oksigen memicu tubuh menumbuhkan pembuluh darah baru yang rapuh dan mudah pecah, menyebabkan perdarahan di dalam bola mata. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada usia produktif di seluruh dunia, termasuk Indonesia, di mana data yang dikutip Alodokter (lihat rujukan di paragraf pembuka) mencatat sekitar 42,6% penderita diabetes mengalaminya. Retinopati diabetik dapat dialami penderita diabetes tipe 1 maupun tipe 2, dan risikonya meningkat seiring lamanya seseorang menyandang diabetes serta seberapa baik kendali gula darahnya selama ini. Karena kerusakan pembuluh darah retina berkembang bertahap dan sering tanpa gejala pada tahap awal, deteksi dini lewat pemeriksaan mata rutin menjadi kunci mencegah kondisi ini berlanjut hingga mengancam penglihatan secara permanen.

Secara mekanisme, kadar gula darah yang terus-menerus tinggi memicu proses yang disebut stres oksidatif dan peradangan mikrovaskular pada jaringan retina. Proses ini merusak sel-sel yang melapisi dinding pembuluh darah kecil (perisit dan sel endotel), membuat pembuluh darah kehilangan kemampuannya mengatur aliran darah secara normal. Semakin lama seseorang menyandang diabetes dan semakin buruk kendali gula darahnya, semakin besar pula akumulasi kerusakan mikrovaskular ini, sehingga retinopati diabetik pada dasarnya adalah kondisi yang berkembang secara bertahap dan sering kali diam-diam sebelum akhirnya terdeteksi.

Apa Saja Tahapan Retinopati Diabetik?

Retinopati diabetik berkembang melalui beberapa tahap, dari kerusakan ringan yang belum mengganggu penglihatan hingga tahap lanjut yang mengancam kebutaan:

Selain empat tahap di atas, sebagian penderita juga mengalami edema makula diabetik, yaitu penumpukan cairan pada makula (bagian tengah retina yang bertanggung jawab atas penglihatan detail dan tajam) akibat kebocoran pembuluh darah. Edema makula dapat terjadi pada tahap non-proliferatif maupun proliferatif, dan merupakan penyebab utama penurunan tajam penglihatan pada penderita retinopati diabetik.

Apa Gejala dan Mengapa Sering Tidak Disadari?

Poin keselamatan yang paling penting untuk dipahami: pada tahap non-proliferatif ringan hingga sedang, retinopati diabetik hampir selalu tidak menimbulkan gejala apa pun, meski kerusakan pembuluh darah retina sudah berlangsung. Inilah sebabnya banyak penderita diabetes baru menyadari kondisinya setelah kerusakan sudah cukup luas. Gejala baru mulai muncul ketika kondisi memasuki tahap lanjut, di antaranya:

Karena gejala baru muncul setelah kerusakan retina sudah signifikan, menunggu munculnya keluhan bukan strategi yang aman bagi penderita diabetes. Satu-satunya cara mendeteksi retinopati diabetik sejak tahap paling awal, saat penanganan masih paling efektif, adalah melalui pemeriksaan mata rutin oleh dokter spesialis mata — bukan menunggu gejala muncul sendiri.

Retinopati diabetik pada tahap awal umumnya tidak bergejala sama sekali. Menunggu keluhan muncul sebelum memeriksakan mata berarti menunda deteksi hingga kerusakan retina sudah lebih sulit ditangani.

Apa Saja Faktor Risikonya?

Beberapa faktor diketahui meningkatkan risiko seseorang mengalami retinopati diabetik atau mempercepat perkembangannya menuju tahap yang lebih berat:

Karena hampir seluruh faktor risiko di atas berkaitan erat dengan pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, penanganan retinopati diabetik pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari penanganan diabetes secara menyeluruh.

Dokter mata melakukan pemeriksaan mata pasien menggunakan alat diagnostik untuk mendeteksi kelainan pada retina
Pemeriksaan mata dengan pupil dilebarkan oleh dokter spesialis mata adalah satu-satunya cara mendeteksi retinopati diabetik sejak tahap awal, sebelum gejala muncul. (Foto: Mike Blyth, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Mengapa Skrining Mata Rutin Sangat Penting?

Skrining mata untuk retinopati diabetik idealnya dilakukan melalui pemeriksaan mata dengan pupil dilebarkan (dilated eye exam) oleh dokter spesialis mata, yang memungkinkan dokter melihat kondisi retina secara menyeluruh hingga ke bagian tepi. Rekomendasi jadwal skrining secara umum adalah:

Jadwal skrining di atas sejalan dengan panduan yang diulas Alomedika untuk kalangan medis di Indonesia, yang menegaskan bahwa skrining retinopati diabetik secara berkala penting dilakukan untuk deteksi dini dan pencegahan kebutaan. Skrining rutin ini tidak dapat digantikan oleh suplemen, pola makan, atau perubahan gaya hidup manapun — perannya murni sebagai alat deteksi dini yang memungkinkan penanganan medis (seperti terapi laser, suntikan anti-VEGF, atau operasi vitrektomi) dilakukan sebelum kerusakan retina berlanjut lebih jauh dan sulit dipulihkan.

Bagaimana Cara Mencegah dan Mendukung Kesehatan Mata?

Pencegahan retinopati diabetik yang paling terbukti secara medis adalah pengendalian kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol secara konsisten sesuai anjuran dokter, karena ketiganya adalah akar penyebab kerusakan pembuluh darah retina. Beberapa langkah pencegahan utama meliputi:

Di luar langkah medis inti tersebut, sejumlah penelitian awal turut menyoroti peran karotenoid seperti lutein dan zeaxanthin dalam mendukung kesehatan retina pada kondisi diabetes. Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di jurnal Nutrients (Lem, Gierhart, & Davey, 2021) mengumpulkan 18 studi tentang karotenoid dan retinopati diabetik, mayoritas berupa studi praklinis pada hewan dan observasional, dengan hanya dua uji klinis acak. Studi-studi tersebut menemukan bahwa lutein dan zeaxanthin dapat menurunkan penanda stres oksidatif pada retina serta meredam jalur peradangan dan faktor pertumbuhan pembuluh darah (VEGF) yang berperan dalam kerusakan retina akibat diabetes. Perlu digarisbawahi, bukti ini masih bersifat awal dan mekanistis — jauh lebih terbatas dibanding bukti klinis kuat dari studi AREDS2 untuk degenerasi makula terkait usia, sehingga karotenoid ini sejauh ini hanya dapat diposisikan sebagai dukungan nutrisi tambahan, bukan pengganti pengendalian gula darah maupun skrining mata.

Sebagai bagian dari dukungan nutrisi tambahan tersebut, AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold yang berkaitan dengan kandungan lutein, daun mangga yang mengandung mangiferin, dan spearmint) serta antioksidan alami asal Jepang. Kandungan peptida marigold di dalamnya diposisikan sebagai dukungan antioksidan umum bagi kesehatan mata, sejalan dengan topik stres oksidatif retina yang dibahas dalam penelitian di atas, sementara mangiferin dari daun mangga berperan sebagai dukungan antioksidan tambahan secara umum.

Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan untuk mendukung kesehatan mata secara umum, bukan obat, dan tidak dapat mencegah, mengobati, atau menggantikan penanganan medis untuk retinopati diabetik. Retinopati diabetik adalah kondisi serius yang berisiko menyebabkan kebutaan permanen bila tidak ditangani, sehingga pengendalian gula darah sesuai anjuran dokter dan pemeriksaan mata dengan pupil dilebarkan secara rutin tetap menjadi langkah wajib yang tidak dapat digantikan oleh suplemen apa pun.

Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.