Presbikusis, atau gangguan pendengaran akibat usia, adalah salah satu kondisi sensorik yang paling umum dialami kelompok lanjut usia di seluruh dunia. Menurut World Report on Hearing yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021, prevalensi gangguan pendengaran meningkat seiring bertambahnya usia, dan lebih dari 25% orang berusia di atas 60 tahun mengalami gangguan pendengaran yang signifikan (disabling hearing loss). WHO juga memproyeksikan bahwa pada 2050 nyaris 2,5 miliar orang di dunia akan memiliki gangguan pendengaran dalam derajat tertentu. Penting untuk dipahami sejak awal: presbikusis bukan tinnitus. Presbikusis adalah penurunan kemampuan mendengar suara dari luar, sedangkan tinnitus adalah persepsi bunyi berdenging atau berdengung yang muncul tanpa sumber suara nyata — keduanya bisa muncul bersamaan pada satu orang, namun merupakan dua kondisi yang berbeda secara mekanisme. Baca penjelasan lengkap tentang tinnitus di sini jika keluhan utama Anda justru berupa denging di telinga, bukan penurunan pendengaran.
Apa itu Presbikusis?
Presbikusis adalah penurunan kemampuan pendengaran yang terjadi secara bertahap dan alami seiring bertambahnya usia, umumnya mulai dirasakan sejak usia 60 tahun ke atas dan memengaruhi kedua telinga secara simetris. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan kumulatif pada sel-sel rambut halus di koklea (rumah siput) telinga bagian dalam yang bertugas menangkap gelombang suara, sehingga penderita paling sering kesulitan menangkap suara bernada tinggi dan memahami percakapan di lingkungan yang ramai atau bising. Penting dipahami, presbikusis berbeda dari tinnitus (telinga berdenging): presbikusis adalah penurunan kemampuan mendengar suara dari luar, sedangkan tinnitus adalah persepsi bunyi berdenging, berdesing, atau berdengung yang muncul tanpa sumber suara nyata di luar tubuh. Meski berbeda secara mekanisme, keduanya sering muncul bersamaan pada satu orang karena sama-sama berkaitan dengan kerusakan sistem pendengaran bagian dalam akibat usia. Presbikusis bersifat progresif dan permanen karena sel-sel rambut koklea yang rusak tidak dapat beregenerasi, sehingga penanganannya berfokus pada alat bantu dengar dan strategi komunikasi, bukan penyembuhan total.
Nama presbikusis berasal dari bahasa Yunani presbys (tua) dan akousis (pendengaran). Secara mekanisme, presbikusis termasuk dalam kategori gangguan pendengaran sensorineural, yaitu gangguan yang terjadi akibat kerusakan pada telinga bagian dalam atau saraf pendengaran, bukan pada telinga luar atau tengah. Karena sifatnya yang bertahap, banyak penderita presbikusis tidak menyadari kondisi ini sejak awal — perubahan kemampuan mendengar biasanya baru disadari oleh orang di sekitar mereka, atau ketika kesulitan berkomunikasi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Fenomena penurunan fungsi sensorik akibat usia ini sebetulnya juga terjadi pada indra lain. Pada mata misalnya, penuaan alami menyebabkan presbiopia (mata tua), yaitu menurunnya kemampuan lensa mata untuk fokus pada objek dekat. Presbikusis pada telinga dan presbiopia pada mata sama-sama merupakan proses penuaan sensorik yang normal dan hampir pasti dialami setiap orang yang berusia panjang, meski keduanya memengaruhi organ dan fungsi yang sepenuhnya berbeda.
Tanda dan Gejala Presbikusis
Karena berkembang secara perlahan, tanda-tanda presbikusis sering kali baru disadari setelah cukup lama berlangsung. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai, baik oleh penderita sendiri maupun anggota keluarga di sekitarnya, antara lain:
- Sering meminta orang lain mengulang perkataan mereka, terutama dalam percakapan sehari-hari
- Menaikkan volume televisi atau radio lebih tinggi dari biasanya, sampai dirasa terlalu keras oleh orang lain di rumah
- Kesulitan mengikuti percakapan dalam kelompok atau di tempat ramai dan bising, seperti restoran atau acara keluarga
- Merasa suara lawan bicara seperti "bergumam" atau tidak jelas, terutama suara bernada tinggi seperti milik anak-anak atau perempuan
- Kesulitan mendengar suara bernada tinggi tertentu, misalnya bel pintu, dering telepon, atau suara burung
Karena sifatnya yang simetris dan bertahap pada kedua telinga, presbikusis sering kali tidak disadari secepat gangguan pendengaran yang muncul mendadak pada satu sisi telinga. Bila salah satu tanda di atas mulai memengaruhi kenyamanan berkomunikasi sehari-hari, pemeriksaan ke dokter THT atau audiolog sebaiknya tidak ditunda.
Penyebab Presbikusis
Penyebab utama presbikusis adalah kerusakan kumulatif pada sel-sel rambut sensorik di koklea telinga bagian dalam, yang terjadi secara bertahap seiring bertambahnya usia dan paparan hidup sehari-hari. Berbeda dengan sel-sel tubuh lain, sel rambut koklea yang rusak tidak dapat beregenerasi atau tumbuh kembali, sehingga kerusakannya bersifat permanen dan terakumulasi sepanjang hidup. Beberapa faktor yang berkontribusi pada proses ini meliputi:
- Proses penuaan alami (utama) — sel rambut koklea, sel saraf pendengaran, dan pembuluh darah kecil yang memasok telinga bagian dalam mengalami keausan bertahap seiring usia
- Faktor genetik — riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran di usia lanjut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami presbikusis lebih awal atau lebih berat
- Paparan suara bising kumulatif — paparan suara keras berulang sepanjang hidup, baik dari lingkungan kerja (mis. pabrik, konstruksi) maupun rekreasi (mis. musik keras, alat berat), mempercepat kerusakan sel rambut koklea
- Kondisi medis tertentu — diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular dapat memengaruhi aliran darah ke telinga bagian dalam dan memperberat penurunan pendengaran akibat usia
- Obat-obatan tertentu (ototoksik) — beberapa golongan obat, seperti antibiotik aminoglikosida atau obat kemoterapi tertentu, dapat berdampak pada fungsi pendengaran; penggunaannya perlu selalu dalam pengawasan dan sesuai anjuran dokter
Presbikusis bukan sekadar "lupa mendengar" karena usia tua — melainkan proses biologis nyata pada sel-sel sensorik telinga bagian dalam yang, sekali rusak, tidak dapat pulih dengan sendirinya.
Bedanya dengan Gangguan Pendengaran Mendadak dan Tuli Konduktif
Tidak semua penurunan pendengaran adalah presbikusis. Memahami perbedaannya penting agar penanganan yang diambil tepat sasaran dan tidak terlambat, terutama untuk kondisi yang bersifat darurat medis.
Gangguan pendengaran mendadak (sudden sensorineural hearing loss) adalah penurunan pendengaran signifikan yang terjadi dalam waktu singkat, biasanya dalam kurun 72 jam, umumnya hanya pada satu telinga. Berbeda dari presbikusis yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun, gangguan pendengaran mendadak adalah kondisi darurat medis yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan dokter sesegera mungkin — idealnya dalam dua minggu sejak gejala muncul — karena peluang pemulihan pendengaran menurun seiring berjalannya waktu tanpa penanganan.
Tuli konduktif (conductive hearing loss) disebabkan oleh gangguan pada telinga luar atau tengah yang menghalangi gelombang suara mencapai telinga bagian dalam, misalnya penumpukan kotoran telinga (serumen), infeksi telinga tengah, atau gangguan pada gendang telinga maupun tulang-tulang pendengaran. Berbeda dari presbikusis yang bersifat sensorineural dan permanen, tuli konduktif sering kali dapat diobati atau bahkan disembuhkan sepenuhnya — misalnya cukup dengan pembersihan kotoran telinga oleh tenaga medis atau prosedur sederhana lainnya.
Karena ketiga kondisi ini — presbikusis, gangguan pendengaran mendadak, dan tuli konduktif — bisa menimbulkan keluhan yang tampak serupa di permukaan, pemeriksaan oleh dokter THT atau audiolog tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang sesuai, alih-alih menyimpulkan sendiri bahwa penurunan pendengaran yang dialami "pasti karena usia tua".
Cara Mengatasi Presbikusis
Presbikusis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya karena bersifat permanen akibat kerusakan sel rambut koklea, namun dampaknya terhadap komunikasi dan kualitas hidup sehari-hari dapat dikelola dengan baik melalui beberapa pendekatan berikut:
- Alat bantu dengar — perangkat yang disesuaikan oleh audiolog berdasarkan hasil tes audiometri, tersedia dalam berbagai jenis seperti behind-the-ear (BTE) atau in-the-ear (ITE), menjadi penanganan utama bagi kebanyakan penderita presbikusis
- Strategi komunikasi — menghadap langsung lawan bicara agar dapat membaca gerak bibir dan ekspresi wajah, mengurangi kebisingan latar saat berbincang, serta meminta orang lain berbicara sedikit lebih pelan (bukan lebih keras) dan jelas
- Melindungi sisa pendengaran — menghindari paparan suara keras berkepanjangan dan menggunakan pelindung telinga di lingkungan bising, untuk mencegah kerusakan tambahan pada pendengaran yang tersisa
- Pemeriksaan pendengaran rutin — tes audiometri berkala ke dokter THT atau audiolog membantu memantau perkembangan presbikusis dan menyesuaikan penanganan, termasuk penyesuaian pengaturan alat bantu dengar dari waktu ke waktu
Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan penting. Bersabar saat harus mengulang perkataan, mengurangi latar suara bising saat berbincang dengan anggota keluarga lanjut usia, serta mendorong mereka memeriksakan pendengaran secara rutin dapat membuat penderita presbikusis merasa lebih didukung dan tidak menarik diri dari interaksi sosial — sesuatu yang cukup umum terjadi bila gangguan pendengaran dibiarkan tanpa penanganan.
Gaya Hidup Sehat Sehari-hari
Meski presbikusis tidak dapat dicegah sepenuhnya, menjaga gaya hidup sehat secara umum tetap bermanfaat untuk mendukung kesehatan sistem saraf dan sensorik tubuh secara menyeluruh seiring bertambahnya usia. Membatasi paparan suara bising, mengelola kondisi medis seperti diabetes dan hipertensi dengan baik, serta menjaga asupan nutrisi harian yang seimbang dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat yang mendukung fungsi sensorik tubuh di masa penuaan.
Sebagai bagian dari upaya menjaga nutrisi harian, AFC Life Science menghadirkan Hikari, suplemen dengan perpaduan peptida (marigold, daun mangga, spearmint) dan antioksidan alami asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung daya ingat, fokus, dan kesehatan mata. Kandungan antioksidan di dalamnya juga diposisikan sebagai bagian dari dukungan nutrisi untuk fungsi saraf dan sensorik tubuh secara umum, sejalan dengan kebutuhan menjaga kesehatan menyeluruh di usia lanjut.
Penting untuk diperhatikan: Hikari adalah suplemen makanan, bukan obat, dan tidak dapat mengobati, memulihkan, atau membalikkan gangguan pendengaran akibat presbikusis, serta bukan pengganti alat bantu dengar maupun evaluasi audiologis oleh profesional. Pemeriksaan pendengaran rutin ke dokter THT atau audiolog tetap diperlukan, terutama bila penurunan pendengaran terjadi secara mendadak yang membutuhkan penanganan medis segera.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Hikari tersedia di halaman produk kami.

