Insomnia, atau gangguan sulit tidur, merupakan salah satu keluhan tidur yang paling umum ditemukan pada orang dewasa, mulai dari sulit memejamkan mata di malam hari hingga terbangun berkali-kali sebelum waktunya. Berdasarkan sebuah studi ulasan sistematis yang dipublikasikan di jurnal Sleep Medicine Reviews (2025), sekitar 852 juta orang dewasa di dunia atau 16,2% populasi dewasa global diperkirakan mengalami insomnia, dengan sekitar 7,9% di antaranya mengalami insomnia berat. Kondisi ini dapat berlangsung sesaat maupun kronis, dan jika dibiarkan dapat memengaruhi produktivitas kerja, kestabilan emosi, hingga kualitas hidup sehari-hari secara keseluruhan.
Apa itu Insomnia?
Insomnia adalah gangguan tidur berupa kesulitan memulai atau mempertahankan tidur secara terus-menerus, meskipun seseorang memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk tidur. Kondisi ini dapat bersifat sementara (akut), misalnya akibat stres atau perubahan jadwal, maupun kronis apabila berlangsung tiga malam atau lebih dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan, dan biasanya disertai dampak nyata pada aktivitas di siang hari.
Secara umum, insomnia dapat dibedakan menjadi dua jenis. Insomnia primer adalah gangguan tidur yang tidak berkaitan langsung dengan kondisi medis atau psikologis lain, sedangkan insomnia sekunder muncul sebagai akibat dari kondisi lain, seperti gangguan kecemasan, depresi, nyeri kronis, atau efek samping obat-obatan tertentu. Membedakan kedua jenis ini penting agar penanganan yang diberikan dapat menyasar akar masalahnya, bukan sekadar meredakan gejala di permukaan.
Insomnia dapat dialami oleh siapa saja, namun beberapa kelompok cenderung lebih berisiko, misalnya lansia, orang dengan riwayat gangguan kecemasan atau depresi, pekerja dengan jadwal shift malam, serta individu dengan kebiasaan tidur yang tidak teratur. Memahami faktor risiko ini dapat membantu seseorang lebih waspada dan segera mengambil langkah pencegahan sebelum gangguan tidur berkembang menjadi kronis.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Insomnia tidak hanya soal sulit memejamkan mata di malam hari. Beberapa gejala yang umum menyertai kondisi ini antara lain:
- Sulit memulai tidur meskipun sudah merasa lelah
- Sering terbangun di tengah malam dan sulit tidur kembali
- Bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur lagi
- Merasa lelah, mengantuk, atau tidak segar sepanjang siang hari
- Sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atau emosi yang tidak stabil akibat kurang tidur
Pada sebagian orang, gejala ini hanya berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu dan mereda dengan sendirinya setelah pemicunya hilang. Namun, jika gejala-gejala tersebut berlangsung berulang, terjadi hampir setiap malam, dan mulai mengganggu aktivitas harian seperti bekerja, belajar, atau berkendara, sebaiknya jangan dianggap sepele dan segera dikonsultasikan dengan tenaga medis untuk mencari tahu penyebab yang mendasarinya.
Insomnia yang dibiarkan berlangsung dalam jangka panjang juga umumnya dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan lain, seperti mudah tersinggung, penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi saat bekerja atau berkendara, hingga risiko gangguan suasana hati seperti kecemasan dan depresi. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dapat membantu mencegah dampak yang lebih luas terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Penyebab Insomnia
Insomnia dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik yang bersifat psikologis maupun kebiasaan sehari-hari yang sering kali tidak disadari. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan meliputi:
- Stres dan tekanan pikiran — beban pekerjaan, masalah keuangan, atau konflik pribadi dapat membuat pikiran terus berputar saat mencoba tidur, sehingga tubuh sulit memasuki fase relaksasi yang dibutuhkan untuk tertidur
- Kecemasan atau gangguan suasana hati, seperti gangguan cemas dan depresi, yang membuat pikiran terus aktif dan waspada menjelang waktu tidur
- Kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur, karena paparan cahaya biru dari layar ponsel atau laptop dapat menekan produksi hormon melatonin yang berperan mengatur rasa kantuk
- Konsumsi kafein, nikotin, atau minuman berenergi, terutama pada sore dan malam hari, yang bersifat merangsang sistem saraf dan menunda rasa kantuk
- Kondisi medis lain, seperti nyeri kronis, gangguan pernapasan saat tidur (misalnya sleep apnea), gangguan hormon, atau efek samping obat-obatan tertentu
Pada banyak kasus, insomnia bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa faktor di atas yang saling memperkuat satu sama lain. Misalnya, kebiasaan bermain gadget hingga larut malam dapat memicu kecemasan akan kurangnya waktu tidur, yang pada gilirannya justru membuat seseorang semakin sulit terlelap. Karena itu, mengenali pola dan pemicu pribadi menjadi langkah awal yang penting sebelum menentukan cara penanganan yang paling tepat.
Tidur yang cukup bukan sekadar istirahat, melainkan proses pemulihan tubuh dan pikiran. Mengabaikan insomnia yang berlangsung berlarut-larut sama artinya dengan mengabaikan sinyal tubuh yang perlu segera ditangani.
Cara Mengatasi Insomnia
Bagi banyak orang, insomnia ringan hingga sedang dapat membaik dengan memperbaiki kebiasaan tidur atau yang dikenal dengan istilah sleep hygiene. Beberapa langkah yang umum direkomendasikan meliputi:
- Menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, termasuk di akhir pekan, agar jam biologis tubuh tetap teratur
- Menghindari kafein, nikotin, dan alkohol menjelang waktu tidur, idealnya beberapa jam sebelum berbaring
- Membatasi penggunaan gadget dan layar setidaknya satu jam sebelum tidur untuk mengurangi paparan cahaya biru
- Menciptakan kamar tidur yang gelap, tenang, dan bersuhu nyaman sehingga tubuh lebih mudah rileks
- Melakukan aktivitas relaksasi seperti membaca, meditasi ringan, atau meregangkan tubuh sebelum tidur
- Menghindari tidur siang yang terlalu lama atau terlalu dekat dengan waktu tidur malam
- Berolahraga secara teratur di siang atau sore hari, namun tidak terlalu dekat dengan waktu tidur
Jika langkah-langkah di atas belum cukup membantu dan insomnia terus berlanjut selama berminggu-minggu, tenaga medis dapat mempertimbangkan pendekatan lain seperti terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) atau evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi medis yang mendasarinya. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat tidur, karena penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Mendukung Gaya Hidup Sehat Sehari-hari
Selain menerapkan kebiasaan tidur yang baik, menjaga pola hidup sehat secara menyeluruh — termasuk asupan nutrisi harian yang seimbang, aktivitas fisik yang cukup, dan manajemen stres — dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan tubuh secara umum, termasuk kualitas istirahat malam hari. AFC Life Science menghadirkan SOP Subarashi, suplemen serbuk harian asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung stamina dan vitalitas tubuh sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Penting untuk diperhatikan: SOP Subarashi adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti pengobatan medis untuk insomnia. Jika Anda memiliki gejala yang disebutkan di atas, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan SOP Subarashi tersedia di halaman produk kami.

