Nyeri sendi akibat osteoartritis, atau yang sering disebut pengapuran sendi, merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal paling umum di dunia dan dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas secara mandiri. Berdasarkan studi Global Burden of Disease (GBD) 2021 yang dipublikasikan di jurnal Lancet Rheumatology, tercatat 595 juta orang di dunia mengidap osteoartritis pada tahun 2020, atau setara 7,6% dari populasi global — meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 1990. Osteoartritis pun menjadi salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang pada orang dewasa, terutama yang memengaruhi lutut, pinggul, dan tangan. Dengan populasi yang semakin menua, angka ini diproyeksikan terus meningkat pada dekade-dekade mendatang, sehingga penting bagi setiap orang untuk mengenali gejala sejak dini dan memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengelolanya.
Apa itu Osteoartritis?
Osteoartritis (sering disebut juga pengapuran sendi) adalah kondisi degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan (kartilago) yang melapisi ujung tulang di dalam sendi mengalami penipisan dan kerusakan secara bertahap. Pada sendi yang sehat, tulang rawan berfungsi sebagai bantalan yang memungkinkan tulang bergerak dengan mulus tanpa gesekan. Ketika lapisan ini menipis, permukaan tulang dapat saling bergesekan langsung sehingga menimbulkan nyeri, kekakuan, peradangan ringan, dan penurunan fungsi sendi dari waktu ke waktu.
Osteoartritis merupakan bentuk radang sendi (artritis) yang paling umum dan berbeda dari jenis nyeri sendi lain. Kondisi ini berbeda dengan asam urat (gout), yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat pada sendi dan biasanya muncul mendadak disertai bengkak kemerahan yang hebat, maupun rheumatoid arthritis, yang merupakan penyakit autoimun sehingga sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan sendi secara keliru. Osteoartritis, sebaliknya, umumnya berkembang perlahan seiring waktu akibat proses keausan mekanis pada sendi. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang menahan beban tubuh, seperti lutut, pinggul, tulang belakang, serta sendi-sendi kecil pada tangan dan jari.
Tingkat keparahan osteoartritis dapat bervariasi, mulai dari tahap ringan yang hanya menimbulkan nyeri sesekali saat beraktivitas berat, tahap sedang dengan nyeri dan kekakuan yang lebih sering muncul, hingga tahap berat yang membuat penderitanya kesulitan melakukan gerakan dasar sehari-hari seperti berjalan atau naik tangga. Semakin dini kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk memperlambat perkembangannya melalui perubahan gaya hidup dan penanganan yang tepat.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala osteoartritis umumnya berkembang secara perlahan dan cenderung memburuk seiring waktu, berbeda dengan nyeri sendi akibat cedera akut yang muncul tiba-tiba. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri sendi yang muncul atau memburuk saat bergerak maupun menahan beban, dan biasanya membaik saat sendi diistirahatkan
- Kaku pada sendi, terutama di pagi hari atau setelah duduk dalam waktu lama, yang umumnya membaik dalam waktu kurang dari 30 menit setelah mulai bergerak
- Bengkak di sekitar sendi yang terkena akibat penumpukan cairan atau peradangan ringan pada jaringan sekitar sendi
- Bunyi "krek" atau gesekan (krepitasi) saat sendi digerakkan, akibat permukaan tulang yang tidak lagi dilapisi tulang rawan yang halus
- Gerak sendi menjadi terbatas sehingga menyulitkan aktivitas sehari-hari, seperti naik-turun tangga, berjongkok, atau menggenggam benda
Pada tahap awal, gejala mungkin hanya muncul sesekali dan tidak terlalu mengganggu. Namun jika keluhan berlangsung lebih dari beberapa minggu, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu aktivitas harian, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan fisik dan pencitraan seperti rontgen umumnya digunakan untuk memastikan tingkat keparahan osteoartritis.
Penyebab Osteoartritis
Osteoartritis tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai faktor yang saling memperberat dan mempercepat kerusakan tulang rawan sendi. Memahami faktor risiko ini penting agar langkah pencegahan dan pengelolaan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Faktor-faktor tersebut di antaranya:
- Penuaan — risiko meningkat seiring bertambahnya usia karena kemampuan tulang rawan untuk memperbaiki diri menurun, sehingga osteoartritis lebih sering ditemukan pada usia paruh baya ke atas
- Kelebihan berat badan — beban ekstra pada sendi penopang tubuh seperti lutut dan pinggul mempercepat keausan tulang rawan, dan jaringan lemak berlebih juga dapat memicu peradangan tingkat rendah pada tubuh
- Cedera sendi sebelumnya — riwayat cedera, keseleo, robekan ligamen, atau operasi sendi dapat mengubah struktur sendi dan meningkatkan risiko osteoartritis di kemudian hari, bahkan bertahun-tahun setelah cedera awal
- Penggunaan sendi secara berlebihan — gerakan repetitif atau tekanan berulang pada sendi tertentu, misalnya akibat pekerjaan fisik berat atau olahraga dengan benturan tinggi dalam jangka panjang
- Faktor genetik — riwayat keluarga dengan osteoartritis dapat meningkatkan kerentanan seseorang, termasuk kecenderungan bawaan pada bentuk atau kekuatan tulang rawan sendi
Selain kelima faktor utama tersebut, jenis kelamin (wanita cenderung lebih berisiko, terutama setelah menopause) dan kelainan bentuk sendi bawaan juga dapat berperan dalam munculnya osteoartritis.
Osteoartritis bukan sekadar "sendi yang menua" — menjaga berat badan ideal, tetap aktif bergerak, dan melakukan deteksi dini dapat membantu memperlambat perkembangannya serta menjaga kualitas hidup.
Cara Mengatasi Osteoartritis
Meski tulang rawan yang telah rusak tidak dapat sepenuhnya pulih, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan osteoartritis, dan menjaga kualitas hidup penderitanya:
- Menjaga berat badan ideal untuk mengurangi beban pada sendi, terutama pada lutut dan pinggul yang menahan sebagian besar berat tubuh
- Berolahraga dengan intensitas rendah (low-impact) seperti berjalan kaki, berenang, bersepeda, atau senam ringan, untuk menjaga kekuatan otot di sekitar sendi tanpa memberikan tekanan berlebih pada tulang rawan yang tersisa
- Melakukan kompres hangat atau dingin — kompres hangat membantu melemaskan otot dan mengurangi kekakuan, sementara kompres dingin dapat membantu meredakan bengkak dan nyeri saat gejala memburuk
- Berkonsultasi dengan dokter untuk kasus yang berat, termasuk kemungkinan terapi fisik (fisioterapi), penggunaan alat bantu seperti tongkat atau penyangga sendi, obat pereda nyeri, hingga tindakan medis lain sesuai indikasi dan tingkat keparahan
Penting untuk menghindari dua ekstrem: memaksakan sendi bekerja terlalu berat, maupun sebaliknya membiarkan sendi tidak bergerak sama sekali karena takut nyeri. Aktivitas fisik yang terukur dan teratur justru membantu menjaga fleksibilitas sendi serta memperlambat kekakuan. Segera periksakan diri ke dokter apabila nyeri sendi disertai bengkak yang signifikan, kemerahan, demam, atau jika nyeri terus memburuk meski sudah beristirahat, karena bisa jadi terdapat kondisi lain yang perlu ditangani lebih lanjut.
Mendukung Gaya Hidup Sehat Sehari-hari
Karena osteoartritis merupakan kondisi jangka panjang yang berkembang secara bertahap, konsistensi menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan sendi. Kombinasi antara berat badan yang terjaga, aktivitas fisik yang teratur, istirahat yang cukup, dan pola makan bergizi seimbang dapat membantu tubuh tetap bugar dan mengurangi tekanan berlebih pada sendi dari hari ke hari. Selain langkah-langkah di atas, menjaga pola hidup sehat secara konsisten — termasuk asupan nutrisi harian yang seimbang — dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan tubuh secara umum, termasuk kesehatan sendi dan tulang. AFC Life Science menghadirkan SOP Subarashi, suplemen serbuk harian asal Jepang yang diformulasikan untuk mendukung stamina dan vitalitas tubuh sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Penting untuk diperhatikan: SOP Subarashi adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti pengobatan medis untuk osteoartritis. Jika Anda memiliki gejala yang disebutkan di atas, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan SOP Subarashi tersedia di halaman produk kami.

