Bekas jerawat adalah topik yang berbeda dari jerawat aktif itu sendiri, dan menjadi salah satu keluhan kulit yang paling banyak dicari secara daring — banyak orang yang jerawatnya sudah reda justru baru mulai risau begitu menyadari bercak atau lekukan yang ditinggalkannya tidak kunjung hilang. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di National Library of Medicine (PMC), mencakup 37 studi dengan lebih dari 24.000 pasien jerawat dari lima benua, menemukan bahwa sekitar 47% penderita jerawat mengalami bekas jerawat (acne scars) dalam berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Artikel ini membahas bekas jerawat secara khusus — bukan jerawat aktif yang sudah dibahas pada artikel terpisah — mulai dari jenis, penyebab, hingga cara mengatasinya sesuai jenis bekas yang dialami.
Apa itu Bekas Jerawat?
Bekas jerawat adalah tanda yang tertinggal di kulit setelah peradangan jerawat sembuh, bisa berupa perubahan warna (bercak kemerahan atau kecoklatan) maupun perubahan tekstur/kontur kulit berupa lekukan permanen. Bekas jerawat berbeda dari jerawat aktif — jerawat aktif adalah lesi yang masih meradang, sementara bekas jerawat baru muncul setelah lesi tersebut sembuh sepenuhnya.
Perbedaan ini penting karena penanganannya pun berbeda jauh. Jerawat aktif ditangani dengan menghentikan proses peradangan dan penyumbatan pori yang sedang berlangsung, sementara bekas jerawat adalah hasil akhir dari proses tersebut — kulit sudah tidak meradang, namun jejak yang ditinggalkan berupa perubahan pigmen atau kerusakan struktur kolagen tetap ada dan memerlukan pendekatan tersendiri untuk memudarkannya. Banyak orang baru menyadari perbedaan ini setelah kecewa karena produk yang ditujukan untuk jerawat aktif (misalnya bahan yang menyasar bakteri penyebab jerawat) ternyata tidak banyak membantu memudarkan bercak atau lekukan yang sudah terbentuk di kulit, karena keduanya memang menyasar masalah yang berbeda.
Istilah "bekas jerawat" sendiri sering dipakai secara longgar untuk menyebut dua hal yang sebenarnya berbeda secara medis: perubahan warna kulit yang sifatnya sementara, dan perubahan tekstur kulit yang sifatnya permanen tanpa intervensi. Mengetahui bekas jerawat mana yang dialami — apakah hanya berupa noda warna atau sudah berupa lekukan di permukaan kulit — adalah langkah pertama sebelum menentukan cara mengatasi yang tepat, karena keduanya tidak merespons perawatan yang sama.
Jenis-Jenis Bekas Jerawat
Menurut DermNet, bekas jerawat secara umum terbagi menjadi dua kategori besar dengan mekanisme dan penanganan yang berbeda:
- Perubahan warna/pigmentasi (PIH — post-inflammatory hyperpigmentation): bercak kemerahan hingga kecoklatan yang muncul di lokasi bekas jerawat akibat produksi melanin berlebih pasca-peradangan. PIH tidak melibatkan kerusakan struktur kulit, sehingga umumnya bisa memudar dengan sendirinya seiring waktu.
- Perubahan tekstur/scar sesungguhnya (atrophic scars): lekukan permanen akibat kerusakan kolagen di lapisan dermis. DermNet membagi scar jenis ini menjadi tiga bentuk utama — ice pick scars (lekukan sempit, dalam, dan berbentuk V yang menembus jauh ke dalam kulit; jenis paling umum, mencakup sekitar 60–70% dari seluruh atrophic scars), boxcar scars (lekukan bulat atau oval dengan tepi yang tegas dan lebih lebar dibanding ice pick), dan rolling scars (lekukan bergelombang dengan tepi landai akibat jaringan ikat yang menarik permukaan kulit ke bawah).
Karena mekanismenya berbeda — PIH adalah soal pigmen, sementara atrophic scars adalah soal kerusakan struktur kolagen yang sudah terjadi — kedua kategori ini memerlukan pendekatan penanganan yang jauh berbeda, dan penting untuk mengenali jenis yang dialami sebelum memilih cara mengatasinya.
Cara paling sederhana untuk membedakan keduanya adalah dengan meraba permukaan kulit yang terkena. Bila permukaannya masih rata dan hanya warnanya yang berbeda dari kulit sekitar, kemungkinan besar itu adalah PIH. Namun bila terasa ada lekukan, cekungan, atau permukaan yang tidak rata saat diraba maupun dilihat dari sudut pencahayaan tertentu, itu menandakan sudah terjadi kerusakan struktur berupa atrophic scar. Selain tiga jenis atrophic scar di atas, DermNet juga mencatat adanya hybrid scars yang menunjukkan karakteristik lebih dari satu jenis sekaligus, serta hypertrophic scars — kebalikan dari atrophic scar karena justru menonjol di atas permukaan kulit akibat produksi kolagen berlebih saat penyembuhan, meski jenis ini jauh lebih jarang terjadi pada bekas jerawat dibanding pada bekas luka operasi.
Penyebab Bekas Jerawat
Tidak semua jerawat meninggalkan bekas, dan tingkat keparahannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
- Peradangan jerawat yang dalam: semakin dalam dan lama peradangan berlangsung, semakin besar kerusakan yang terjadi pada kolagen di lapisan dermis, yang pada akhirnya membentuk lekukan permanen setelah proses penyembuhan.
- Memencet atau memecahkan jerawat secara paksa: tindakan ini memperbesar area peradangan dan risiko kerusakan jaringan di sekitarnya, sehingga jerawat yang sebenarnya bisa sembuh tanpa bekas justru berisiko meninggalkan scar permanen.
- Jenis kulit dan faktor genetik: sebagian orang secara alami lebih rentan mengalami hiperpigmentasi pasca-inflamasi atau pembentukan jaringan parut dibanding yang lain, termasuk pengaruh riwayat bekas jerawat pada anggota keluarga.
- Keterlambatan penanganan jerawat aktif: semakin lama jerawat inflamasi (papul, pustul, nodul, kista) dibiarkan tanpa penanganan, semakin lama pula proses peradangan berlangsung dan semakin besar peluang meninggalkan bekas.
Dari faktor-faktor di atas, tingkat keparahan dan durasi peradangan tetap menjadi penentu utama. Jerawat non-inflamasi seperti komedo jarang meninggalkan bekas karena tidak melibatkan kerusakan jaringan di bawah permukaan kulit. Sebaliknya, jerawat inflamasi yang dalam — terutama nodul dan kista — jauh lebih berisiko karena peradangannya menembus hingga ke lapisan dermis tempat kolagen berada, sehingga proses penyembuhan pun ikut merusak struktur penyangga kulit di area tersebut.
Menahan diri untuk tidak memencet jerawat mungkin terlihat sepele, namun justru menjadi salah satu langkah paling menentukan antara jerawat yang sembuh tanpa jejak dan jerawat yang meninggalkan bekas permanen.
Cara Mengatasi Bekas Jerawat
Karena PIH dan scar bertekstur memiliki mekanisme berbeda, cara mengatasinya pun perlu disesuaikan dengan jenis bekas yang dialami.
Untuk bekas berupa perubahan warna (PIH):
- Pencerah kulit topikal seperti vitamin C dan niacinamide, yang bekerja pada tahap berbeda dalam proses pembentukan melanin sehingga kerap dikombinasikan
- Tabir surya (sunscreen) SPF minimal 30 setiap hari — langkah krusial karena paparan sinar UV dapat memperparah dan memperlama bercak yang sudah ada
- Waktu — PIH tergolong bekas yang paling ringan dan sering kali bisa memudar dengan sendirinya dalam beberapa bulan, tanpa perlu prosedur intensif
Untuk bekas bertekstur (ice pick, boxcar, rolling scars): berbeda dari PIH, jenis bekas ini tidak bisa hanya diatasi dengan perawatan rumahan karena melibatkan kerusakan struktur kolagen yang sudah terbentuk. Penanganan umumnya memerlukan konsultasi ke dokter kulit, yang dapat mempertimbangkan prosedur seperti chemical peeling (pengelupasan kimia untuk merangsang regenerasi kulit), microneedling (stimulasi produksi kolagen baru melalui jarum mikro), atau terapi berbasis laser — pilihan dan kombinasi prosedur disesuaikan dengan jenis, kedalaman, dan luas area scar pada masing-masing individu.
Dokter kulit umumnya akan menilai kedalaman dan jenis scar terlebih dahulu sebelum menentukan prosedur, karena ice pick scars yang sempit dan dalam biasanya membutuhkan pendekatan berbeda dibanding rolling scars yang lebih dangkal dan melebar. Pada beberapa kasus, kombinasi dari beberapa metode — misalnya microneedling diikuti perawatan topikal tertentu, atau laser yang dipadukan dengan chemical peeling bertahap — memberikan hasil yang lebih optimal dibanding hanya mengandalkan satu jenis prosedur saja. Penting dipahami bahwa hasil dari prosedur-prosedur ini umumnya bertahap dan memerlukan beberapa sesi, bukan hasil instan dalam sekali kunjungan.
Pencegahan Bekas Jerawat
Karena bekas jerawat jauh lebih mudah dicegah daripada dihilangkan setelah terbentuk, beberapa langkah berikut layak menjadi prioritas:
- Menangani jerawat aktif sedini mungkin, terutama jerawat inflamasi (papul, pustul, nodul, kista) yang paling berisiko meninggalkan bekas
- Tidak memencet atau memecahkan jerawat secara paksa, sekecil apa pun godaannya
- Menggunakan tabir surya secara konsisten setiap hari untuk mencegah bercak PIH yang sudah muncul bertambah gelap dan bertahan lebih lama
Ketiga langkah di atas terdengar sederhana, namun konsistensinya yang sering menjadi tantangan. Menangani jerawat sejak dini berarti tidak menunda konsultasi ke dokter kulit ketika jerawat sudah masuk kategori sedang hingga berat, alih-alih menunggu berbulan-bulan mencoba berbagai produk perawatan mandiri terlebih dahulu — semakin lama peradangan dibiarkan berlangsung, semakin besar pula risiko kerusakan kolagen yang berujung pada scar permanen.
Mendukung Kulit dari Dalam
Selain perawatan topikal dan, bila diperlukan, prosedur dermatologis untuk scar bertekstur, kondisi kulit secara umum juga dipengaruhi oleh apa yang didukung dari dalam tubuh, misalnya lewat asupan nutrisi harian yang menunjang kesehatan dan kecerahan kulit secara menyeluruh. Salah satu pilihan yang dihadirkan AFC Life Science adalah Utsukushhii Gold, minuman serbuk berbahan Salmon Milt DNA dari salmon Oncorhynchus keta asal perairan Hokkaido yang dipadukan dengan Takara Kombu Fucoidan, diracik sebagai bagian dari rutinitas kecantikan harian untuk mendukung tampilan kulit yang lebih cerah dan segar.
Penting untuk diperhatikan: Utsukushhii Gold adalah suplemen makanan, bukan obat, dan bukan pengganti perawatan dermatologis untuk bekas jerawat. Untuk bekas jerawat berupa scar bertekstur, konsultasikan dengan dokter kulit untuk pilihan penanganan yang tepat.
Informasi lengkap kandungan dan cara pemesanan Utsukushhii Gold tersedia di halaman produk kami.

